The Last Music

Let me play this last music, only for you…

Yuki Tachibana Masanobu

The Last Music

Let me play this last music, only for you…

Yuki Tachibana Masanobu

Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kau cintai?

Bagaimana rasanya saat bagian dari dirimu 'pergi'?

Apa yang akan kau rasakan?

Apa yang akan kau lakukan?

Minggu, 12 Juli, 08.30 AM – Yuka's POV

"K-Kazuki, t-tunggu dulu! Jangan cepat-cepat! Tubuhmu masih lemah!" Aku berlari ke arah seorang pemuda berkursi roda yang menoleh ke arahku dan tersenyum manis,

"Tenang saja Yucchan, aku tidak apa-apa!" ia melambaikan tangannya dan kembali menggerakan kursi rodanya ke arah taman.

"K-Kazuki!"

Ia berhenti di depan sebuah bangku dan mengeluarkan biolanya. "Yucchan, cepatlah!"

"Ya, ya…" dengan napas terengah-engah aku duduk di hadapannya. Ia tersenyum senang dan mulai memainkan biolanya, lagu lembut yang selalu ia mainkan untukku setiap pagi di taman selama 2 minggu terakhir ini. Kazuki sudah dirawat di rumah sakit selama 4 bulan, dan baru beberapa minggu yang lalu ia diizinkan untuk keluar kamar, meskipun ia masih harus diopname beberapa minggu lagi.

Kazuki adalah teman masa kecilku sekaligus teman sekolahku. 4 bulan yang lalu, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya -satunya hal yang tak kan kalian percayai dari ceritaku adalah sifat optimis Kazu. Aku ada di rumah sakit dengan ibu Kazu saat ia pertama sadar di rumah sakit. Ketika dokter memberi tahu tentang kelumpuhan kakinya, yang ia lakukan hanyalah tersenyum dan berkata dengan senang, "Untunglah bukan tanganku yang terlindas mobil!" Aku sungguh-sungguh tidak habis pikir dengan sifatnya…

Impian Kazuki, adalah menjadi pemain biola nomor satu, dan impianku, adalah untuk selalu bisa bersama dengannya hingga saat itu tiba.

"Bagaimana permainanku tadi?" Kazuki kembali memasukkan biolanya dan mengajakku kembali ke kamarnya. Aku mulai mendorong kursi rodanya perlahan menuju lift. "Bagus, seperti biasanya. Tapi kau harus mulai berlatih lagu lain, Kazuki."

"Ya, aku tahu." Ia tersenyum bangga. "Hanya lagu itu yang kuhafal. Besok saat kau menjengukku bisakah kau bawakan aku buku lagu atau apalah?"

"Eh, besok aku sudah mulai sekolah…" Kataku pelan.

"Ayolaah Yucchan! Datang saja sepulang sekolah! Sekalian kau pinjamkan aku catatan dan tugas-tugas untukku! Ya? Ya?" ia menggenggam tanganku erat.

Aku tersenyum kecil mendengar perkataannya. "Ya… Baiklah…" aku mengangguk pelan dan memeluknya dari belakang.

"Arigatou, Yucchan!" Ia memeluk tanganku erat dan mencium lembut pipiku. Saat ia tahu mukaku memerah, ia tertawa pelan. Aku kembali mendorong kursi rodanya ke arah kamarnya setelah keluar dari lift.

"Ah, Kazuki." Begitu kami masuk, kak Tsukasa sedang duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur sambil menonton televisi.

"Kakak!" Kazuki menggerakkan kursi rodanya ke arah kakaknya sementara kak Tsukasa langsung membantunya naik ke tempat tidur.

"Kak Tsukasa! Tolong jangan biarkan Kazuki keluar kamar sendirian lagi!" Aku berteriak kesal. "Bagaimana jika terjadi sesuatu?!"

"Dia pergi sendiri tiap pagi, untuk apa aku harus repot-repot mencegahnya?" Kak Tsukasa berkata santai. "Lagipula tidak pernah terjadi apa-apa kan?"

"Iya Yucchan, kau terlalu khawatir!" Kazuki merebut remote dan bersandar di tempat tidur.

Aku menghela napas pelan dan mulai membereskan barang-barangku. "Kalau begitu terserah kalian, aku pulang dulu..."

"Pulang?" Kak Tsukasa dan Kazuki bertanya bersamaan.

"Besok sudah sekolah, aku hanya diizinkan untuk mampir sebentar disini." aku memeluk Kazuki. "Aku akan datang lagi sepulang sekolah besok."

"Hai!" ia tersenyum kecil dan melambai. Pandangannya berpindah ke Kak Tsukasa. "Kakak tidak pulang?"

Kak Tsukasa hanya tersenyum kecil dan duduk di sebelahnya. "Aku bukan orang yang temasuk dalam tipe anak rajin, aku pulang nanti malam."

"Aku pulang dulu." Aku berjalan keluar dan melambai.

"Sampai besok!"

6 PM, Kazuki's POV

"Oi." Kakak menepuk kepalaku pelan. "Sampai kapan mau melamun? Aku harus pulang sekarang."

"Ah iya, selamat jalan..." aku melambai pelan. Kakak bertolak pinggang dan memukul kepalaku lebih keras dengan koran yang dibawanya. "Bodoh!"

"Itai! Aduuuuh! Untuk apa pukulan itu?!" aku memegang bagian yang dipukulnya dan berteriak kesal.

"Mana semangatmu seperti saat Yuka ada tadi?!"

Aku tertawa kecil dan memeluknya erat dari tempat tidur. "Maaf... sampai besok." Kakak tersenyum dan membalas pelukanku. "Aku akan menjengukmu besok sore, oke?" Aku mengangguk dan melihatnya berjalan keluar.

Akhirnya aku sendirian lagi disini... Sejak Yucchan pulang, yang kulakukan hanyalah berlatih biola (masih dengan lagu yang sama -;;) dan mengobrol dengan kakak... Harusnya Yucchan bisa menemaniku sampai sore, seperti biasanya, karena memang dari 2 bulan yang lalu kami masih dalam liburan musim panas. Tapi mulai besok Yuka dan kakak akan mulai sekolah, sedangkan ibu hanya mendapat cuti 1 bulan sejak kecelakaanku. Ayah sudah bercerai dengan ibu sejak aku kecil, dan ibu tidak pernah mengizinkan aku ataupun kakak untuk mengubunginya. Oke, singkat kata, aku akan lebih sering menghabiskan waktu sendirian disini mulai besok.

Aku menghela napas pelan. "Yah, setidaknya mereka masih bisa menjengukku..." Aku tersenyum kecil, lagipula mengeluh tidak akan menghasilkan apa-apa. Aku tersentak ketika telepon genggamku berbunyi tiba-tiba, telepon dari Yucchan! Segera kuangkat tanpa membiarkannya menunggu lagi.

"Halo?"

"Ah, Kazuki?" Suara Yucchan yang manis memanggil namaku lembut.

"Ya Yucchan! Ada apa?" Aku hampir berteriak karena senang.

"Eh...e...to..." Yucchan terdengar gugup selama beberapa saat. "Kazu, Mungkin aku tidak bisa menemanimu besok..."

Aku terdiam untuk mencerna baik-baik perkataanya perlahan-lahan. "Eh?"

"M-maaf, hanya saja ibu memintaku untuk tidak pergi kemana-mana saat hari pertama kembali masuk sekolah, aku sudah bilang kalau aku hanya sebentar, tapi-"

"Ah, tidak apa Yucchan!" Aku berusaha berbicara seriang mungkin. "Kau turuti saja apa kata ibumu! Lagipula, kau memang baru mulai belajar! Tidak baik kalau konsentrasimu terpecah! Kakak masih bisa menemaniku kok!"

Aku mendengarnya tertawa pelan, "Terima kasih, Kazu."

"Ya! Tidak apa!"

"Konbanwa."

"Konbanwa, Yucchan!"

Teleponpun ditutup.

Aku hanya terdiam di kamar, kembali menghela napas. Kuletakkan handphone-ku kembali di meja samping dan bersandar kembali ke tempat tidur. Aku memandang ke arah jendela, mengamati langit malam itu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang, mungkin aku lebih baik langsung tidur saja sampai besok pagi...

Sesaat kemudian aku langsung sadar bahwa itu adalah ide yang bodoh. Aku tersenyum kecil, aku harus lebih menghargai kepentingan Yucchan dan tidak egois, Yucchan sudah bersikap sangat baik padaku. Aku kembali mengambil handphone dan menekan nomor telepon kakak, aku harus memastikan apakah ia bisa menjengukku atau tidak.

Setelah beberapa saat mendengarkan nada sambung, kakak mengangkat teleponnya.

"Himura disini…" suara malas kakak adalah hal pertama yang kudengar saat nada sambung berhenti.

"Semua orang yang mendengar suaramu akan langsung mematikan teleponnya kembali kak." aku tertawa kecil.

"K-Kazu? Kenapa kau menelepon?!" Suara kakak berganti menjadi panik saat mengetahui kalau akulah yang meneleponnya.

Aku menghiraukan pertanyaannya. "Lagipula, marga kita Taniyama, sejak kapan namamu berubah menjadi Himura?"

"Ah, t-tidak… Kupikir tadi- yah, lupakan… Ada apa?"

"Aku cuma sedang bosan."

"…akan kututup teleponnya."

"K-kak!" aku buru-buru menahannya. "Aku benar-benar bosan… Kakak dimana?"

"Aku masih di taksi, sebentar lagi sampai di rumah."

"Besok kau akan bawakan tugas-tugas musim panasku ke sekolah kan?"

"Ya, tenang saja…"

"Jangan lupa mampir ke sini besok."

Ia terdiam sesaat, "Oke, cukup Kazuki, ada apa?"

Aku tertawa gugup. "Eh, Yucchan tidak bisa datang besok, jadi aku pikir kau juga tidak akan datang dan—"

"Aku pasti datang Kazuki." Kak Tsukasa menyela. "Aku janji."

Mukaku agak memerah. "Y-ya... Terima kasih kak."

Senin,13 Juli - 5 PM

"Aku datang." Kak Tsukasa membuka pintu tanpa basa-basi dan langsung duduk di pinggir tempat tidurku. Aku tersenyum kecil saat ia menepuk-nepuk kepalaku pelan, "Selamat datang, kak!"

"Ya..." ia mengambil sebuah buku tulis dari dalam tasnya. "Aku sudah memberikan tugas-tugasmu pada Yuka untuk dibawa ke sekolah, gurumu tadi memberikan catatan atau apalah, Yuka menitipkannya padaku sepulang sekolah siang ini..."

"Terima kasih~" aku mengambil buku itu darinya dan meletakkannya di meja disampingku. "Akan kusalin nanti."

"Bagaimana hari ini?"

"Eh? Yah, tidak banyak yang terjadi…" Kataku sambil tertawa kecil. Tentu saja, tidak banyak hal yang bisa kau lakukan saat terbaring diam di tempat tidur. Lagipula, kakak pasti akan marah jika aku beritahu kalau dari tadi pagi yang kulakukan hanyalah cuci kaki, cuci tangan, cuci muka, main biola, sarapan, nonton, main biola, nonton, main biola, nonton, makan siang, main biola lagi, nonton lagi, dan begitu seterusnya sampai kakak datang^^;;

Ia tersenyum kecil, ekspresi yang benar-benar jarang kudapatkan dibandingkan dengan dengan senyum nakalnya yang biasa. "Jangan egois ya, Yuka juga punya kepentingan sendiri."

Aku mencibir."Aku tahu! Aku tidak egois seperti kakak tahu!"

"Apa katamu? Sudah bagus aku mau menasehatimu baik-baik dasar adik bodoh!"

"Kakak lebih bodoh dari aku! Jangan bilang aku bodoh!"

Akhirnya kami bertengkar lagi... Tentu saja tidak serius, karena aku tahu, walaupun bicaranya kasar, kakak itu orang yang sangat baik.

Pertengkaran kami terhenti sesaat karena handphone kakak yang berbunyi nyaring. Kak Tsukasa berhenti memukuliku sebentar dan mengangkat teleponnya. "Halo?"

Aku terdiam memandangnya dengan pandangan kesal, sebenarnya menahan tawa. Suara kakak yang dari tadi berteriak ternyata bisa tenang juga saat mengangkat telepon^^

"TIDAK MUNGKIN!" aku terkejut saat kakak tiba-tiba berteriak, raut wajahnya terlihat panik. Kakak mulai terdiam melihatku yang khawatir, ia kembali berbicara pelan. "Tidak, jangan bercanda… tapi itu mustahil!…" ia memandangku dengan gugup. "Tidak, tidak mungkin aku— dia tidak akan bisa menerimanya! Sudahlah!" Kakak segera menutup telepon itu dengan kesal. Aku menggenggam tangannya pelan.

"A-ada apa?"

Kakak membalas genggamanku lemah, ia memalingkan pandangannya dari wajahku. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi aku tahu ia menangis. Kak Tsukasa yang biasanya selalu tenang dan cuek, menangis. Bahkan aku tidak pernah lagi melihatnya menangis sejak ayah pergi. Susah payah aku berusaha membuatnya mau menatapku, memeluknya erat. "Ada apa?"

Ia memelukku dan mengelus rambutku perlahan. "…Tidak… Sudahlah… Jangan sekarang…" ia segera melepas pelukannya dan berjalan ke arah pintu keluar. "Aku harus pergi dulu, Kazuki. Cuma sebentar."

Aku memandangnya cemas. "Ke mana?"

Ia terlihat sangat panik dan bingung, ia hanya diam dan terus berjalan. "Jangan sekarang, Kazu. Tolong, tetaplah disini, aku akan kembali nanti."

"Tidak mau! Apa yang terjadi?" aku masih berusaha menahannya. "Kumohon kak! Pasti ada sesuatu! Kau terlihat sangat panik, apa yang—"

"Brengsek Kazu, YUKA TEWAS!"

Mengapa kau yang memelukku saat aku ingin ada seseorang yang melakukannya?

Mengapa kau yang menemaniku saat aku ingin seseorang itu yang melakukannya?

Mengapa selalu kau yang ada disampingku saat aku menderita?

Mengapa kau selalu menjadi segalanya yang tak dapat kumiiliki?

Dan sekarang, mengapa aku tak dapat memilikimu?

6 PM

Ia benar-benar pergi…

Aku terdiam di depan rumahnya, rumah Yucchan. Yuka. Air mata mengalir deras dari mataku, benar-benar tidak dapat kutahan lagi. Rasanya lebih menyakitkan dibandingkan saat kecelakaan itu, jauh lebih menyakitkan. Yucchan meninggal. Keluarga Yucchan dibantai sore itu, sekitar jam 3. Para polisi juga menginterogasi kami karena kami termasuk teman dekat Yucchan. Aku tidak dapat bicara banyak, aku tidak dapat berpikir, aku tidak dapat melakukan apapun. Aku hanya diam di rumah sakit saat Yucchan mungkin sedang tersiksa dan berusaha meminta pertolonganku.

"Kazuki, ayo pulang." Kak Tsukasa mendorong kursi rodaku perlahan menjauh dari rumah Yucchan. Aku tidak ingin pulang, aku ingin tetap disana, tapi aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa menepis tangannya dan mengeluh padanya seperti biasanya. Aku hanya ingin bertemu dengan Yucchan, Bisakah?

Di luar dugaanku, ibu menyempatkan dirinya untuk datang menjemputku, kantornya mengizinkannya pulang lebih cepat. Ibu sudah meminta pada pihak rumah sakit agar aku bisa pulang hari ini. Ia terlihat cukup khawatir.

Sesampainya di rumah, kakak membantuku naik ke kamarku dan membaringkanku. "Istirahatlah." ia memandangku sedih. "Kalau butuh apa-apa, aku ada di depan…"

Aku sangat ingin tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada kakak, hanya seutas senyum singkat dan ucapan pendek agar kakak bisa berhenti menghawatirkanku. Aku menggenggam lengannya pelan, "K-kak…"

Kak Tsukasa menoleh, "Ya?"

Dia tidak akan kembali...

Tidak bisa.

Air mata mengalir semakin deras ke pipiku. Aku hanya tertunduk dan membenamkan wajahku, mencoba berhenti menangis. Aku harus selalu melihat sisi baik dari semua hal, itu prinsip hidupku. Tetapi untuk saat ini, dimana sisi baiknya? Mengapa aku tidak bisa menjadi kuat lagi? Mengapa Yucchan harus meninggalkanku? Mengapa?

Kak Tsukasa memelukku lembut. "Menangislah… Ini memang tidak seharusnya terjadi, ini memang hal bodoh yang tidak seharusnya terjadi…"

Tangisanku semakin menjadi-jadi, tangisan yang sudah kuputuskan takkan kulakukan lagi sejak ayah dan ibu berpisah, tangisan yang seharusnya sudah kulupakan, yang seharusnya kutolak. Aku memeluk kakak semakin erat. "Ini salahku…" aku tidak dapat berpikir jelas lagi. "Ini semua karena aku…"

8 PM – Tsukasa's POV

Aku tidak tahan lagi melihatnya begini.

Dari rumah sakit sampai rumah, Kazuki lebih sering terdiam, pandangannya benar-benar kosong dan murung. Sangat amat jauh berbeda dibandingkan Kazuki yang biasanya.

Aku membereskan piring makanannya dan membawanya keluar kamar. "Ada lagi yang kau butuhkan?" tanyaku sebelum keluar.

Ia tidak menjawab dan menggeleng lemah. Aku hanya dapat memandangnya khawatir dan duduk disampingnya. Ia masih tidak mau merespon."Kazuki…" aku menggenggam tangannya perlahan.

"Kumohon…" suaranya terdengar bergetar seraya ia mencoba melepaskan tanganku. "…biarkan aku sendiri."

Aku tidak ingin terus melihatnya begini.

Aku bangkit dan berjalan keluar kamarnya, ia ingin sendirian, maka aku harus menghargainya. Aku sendiri terkejut saat mendengar telepon dari ibu tentang hal itu. Padahal sampai kemarin, Yuka masih bersama kami tanpa ada apapun yang perlu dikhawatirkan.

Aku meletakkan piring itu di dapur dan berjalan ke kamar. Aku memeriksa Kazuki sebentar saat melewati kamarnya dan melihatnya sudah tertidur, atau pura-pura tidur, atau sedang menangis, entahlah. Aku tidak ingin mengganggunya sekarang, aku tidak ingin semakin menambah bebannya lagi.

Padahal seharusnya aku tetap diam saat itu. Seharusnya aku tidak perlu terbawa emosi dan meneriakan hal itu tepat dihadapannya. Saat kondisinya masih labil, saat kesehatannya belum membaik. Aku selalu hanya memperparah keadaan.

Bayangkan bagaimana perasaanmu saat seseorang yang terpenting dari hidupmu pergi, di saat kau sedang membutuhkannya.

Aku berbaring di tempat tidurku, hanya bisa menyesali apa yang sudah kulakukan terhadapnya. Mengapa aku bisa berbuat seperti itu? Mengapa aku selalu kalah pada egoku? Emosiku? Mengapa? Meskipun aku tahu itu akan menyakiti orang yang kusayangi, mengapa?

Aku tidak tahu, aku tidak ingin mengetahuinya.

Selasa, 14 Juli - 1.09 AM

Aku segera terbangun ketika mendengar suara sesuatu yang terjatuh dari lantai bawah. Cepat-cepat kupakai jaketku dan turun, untuk melihat Kazuki yang berada di lantai dengan kursi roda tergeletak disebelahnya.

"K-Kazuki..?! Apa yang—"

"Jangan mendekat…" dengan tangannya yang gemetaran, ia mendekatkan sebuah pisau ke arah lehernya, berusaha untuk menjauh dariku. "Kumohon kak… Jangan mendekat…"

Aku hanya bisa terdiam, mencoba untuk tidak memperlihatkan rasa panikku. "Kazuki, letakkan pisau itu." Aku masih menahan suaraku agar terdengar setenang mungkin. "Letakkan sekarang juga."

"T-tidak…" ia tetap menggenggam erat-erat pisau itu, sorot matanya terlihat sendu, dan ketakutan. "Kumohon biarkan aku."

Aku berusaha untuk mendekatinya perlahan, tetap menjaga jarak darinya. "Kazuki, sudah hentikan—"

"JANGAN MENDEKAT!" Kazuki semakin memperkecil jarak pisau itu dengan lehernya, air matanya mulai menetes. "A-aku sungguh-sungguh, jangan… jangan dekati aku..!"

Aku tidak tahu apa yang ia inginkan, tapi aku tahu ia ketakutan.

Aku berjalan mendekatinya perlahan dan mengambil pisau itu dari tangan Kazuki yang lemah, dengan hati-hati meletakkannya di meja. Kazuki masih berusaha menghindar dariku dan memalingkan pandangannya, tidak ingin memperlihatkan tangisannya. Aku kembali memeluknya pelan.

"Kazuki, katakan apa yang kau inginkan… Jangan lakukan hal-hal berbahaya seperti hari ini lagi, aku mohon…"

Kazuki memelukku erat, menumpahkan seluruh emosinya dalam tangisan yang entah sudah berapa tahun tidak kudengar lagi sampai kemarin malam. "Aku hanya menginginkan Yucchan!" ia menggenggam erat bajuku. "Aku tidak lagi membutuhkan yang lain, aku hanya membutuhkannya..! Kumohon… Aku… Hanya itu permintaanku… Kumohon… Kabulkanlah…"

Pelukanku semakin erat, mencoba untuk menahan tangisan dan rontaannya, "Aku tidak bisa, Kazuki." Perlahan air mataku ikut menetes. "Tidak akan ada yang bisa…"

1.23 AM

Susah payah aku membawa Kazuki kembali ke kamarnya dan membereskan kursi rodanya. Harus kuakui, ia cukup berani turun tangga sendirian dari lantai dua, meskipun akhirnya terjatuh. Aku tersenyum kecil. Memang, bagaimanapun juga, ia tetaplah Kazuki yang pantang menyerah, meskipun ia tidak lagi ceria.

Karena apapun yang terjadi, aku adalah aku. Dan kamu adalah kamu. Jadilah dirimu sendiri.

Aku duduk di pinggir tempat tidurnya, mengelus lembut rambut coklatnya, mengamati wajah tidurnya yang polos, seakan segala hal barusan sama sekali tak pernah terjadi. Dalam hati, aku agak bersyukur ibu tidak terbangun, ia pasti histeris jika melihat tingkah Kazuki tadi. Aku kembali tersenyum.

Semuanya baik-baik saja… Tidak akan terjadi apa-apa… Selama ia tetap bersamaku…

Ya kan?

9.49 AM – Kazuki's POV

Aku hanya sanggup tertegun ketika menyadari teman-teman sekelasku ada di kamar begitu aku bangun.

Aku tertdiam, masih bingung dengan apa yang terjadi. "Ah, Kazuki-kun sudah bangun~!" Izuna mengguncang-guncang bahu Sayaka ketika melihatku terbangun.

"BODOH!" Itu karena kau ribut dan mengganggunya dari tadi!" Akita menginjak kaki Izuna pelan.

"ITAI!" Sayaka berteriak pelan. "Kau yang bodoh! Yang kau injak itu kakiku!"

"Eh, ah, maaf…"

"Berhenti bertengkar~! Kita ke sini untuk membawakan catatan Kazuki! ." Izuna segera berpaling ke arahku dan tersenyum. "Kazuki-kun~ Kami membawakan catatan dari sensei untukmu~"

"Ah, i-iya…" Aku mengambil buku yang dipegangnya dan meletakkannya di meja sampingku. "Terima kasih."

"Ya… begitulah…" Sayaka terdiam. "Sudah, ayo pulang! Kita akan mengganggunya!" ia mendorong Izuna dan Akita keluar.

"EEH? Tapi kita baru sebentar di sini! Aku tidak mau pulang!" Izuna berbalik dan duduk di kursiku. "Aku kan mau menemani Kazuki!"

"Y-yah, tidak apa kalau masih mau disini…" Aku berkata pelan.

"Dengar itu? Jangan egois Sayakaaa!" Izuna berteriak senang. "Kazuki bilang ia masih ingin kita disini~!" Izuna mengambil sebuah komik dari mejaku dan membacanya.

Akita menghela napas pelan. "Yah, sebentar saja. Kazuki memang masih butuh istirahat…"

Aku menatap mereka bingung. "Tidak sekolah?"

"Karena rumahmu dekat, kami sengaja datang saat jam istirahat~" Izuna menjawab riang. "Bagaimana keadaanmu Kazuki?"

"Aku sudah baik-baik saja." Aku menjawab. "Mungkin beberapa hari lagi sudah bisa sekolah…"

"Baguslah kalau begitu." Sayaka tersenyum. "Kelas jadi sepi tanpamu, yah, meskipun sudah ada Izuna…"

"Jangan sedih terus karena Yuka-chan ya!" Izuna tertawa kecil.

Ia tidak akan kembali, kau tahu?

"Eh?" aku terdiam. Air mata mulai kembali terkumpul di mataku.

Akita segera menutup mulut Izuna dengan tangannya. "A-ah, t-tidak..! M-maaf, sudah lupakan saja!" Ia segera memaksa Izuna keluar. Setelah Izuna dan Akita keluar, aku hanya bisa terdiam, Sayaka menghela napas.

"Maaf, kau tahu sendiri bagaimana Izuna…"

Aku mengangguk pelan. Izuna memang masih kekanak-kanakan dan tidak begitu bisa membaca situasi, tapi tetap saja…

Aku tetap terdiam, mencoba menahan air mataku. Sayaka mulai panik dan mengambil sapu tangan dari sakunya, memberikannya padaku. Aku memaksakan sebuah senyum kecil dan mengambil sapu tangan itu. "Terima kasih."

"I-iya, ah, kami harus kembali ke sekolah sekarang…" ia segera membereskan tasnya dan berjalan keluar. "Kembalikan saja saat kau sudah masuk nanti."

Aku mengangguk, "Terima kasih banyak."

Sayaka segera bejalan keluar dan menutup pintu kamar.

Aku menatap langit-langit kamarku, diam. Tidak melakukan apapun. Tidak memikirkan apapun.

Padahal, kupikir mereka juga teman Yucchan, mengapa mereka dapat melupakannya secepat itu?

Aku tertegun saat Yucchan datang ke rumahku saat pesta ulang tahunku yang ke 14. Yucchan datang dengan mengenakan GAUN renda warna MERAH MUDA dan BANDO berpita berwarna MERAH! 8D

Wajah Yucchan agak memerah. "Jangan tertawa."

Aku tersenyum senang dan segera memeluknya erat."Yucchan maniiiiis! Kenapa tidak setiap hari saja kau pakai gaun? Kau sangat cocok memakai gaun ini!"

"Tidak mungkin aku memakainya kalau tidak ada acara khusus kan…" ia memalingkan wajah, tersipu. Aku tersenyum kecil, "Aku tidak bohong Yucchan! Kau memang manis sekali^^ Terima kasih mau memakainya ke pestaku~"

"I-iya.."

"Ah, Yucchan."

"Hmm?"

"Kalaupun tahun depan kau datang lagi, masih dengan pakaian yang sama, dan sudah membawa pacarmu, aku masih boleh memanggilmu manis kan?" Tanyaku polos.

Wajah Yucchan semakin memerah, "A-apa sih?! Tentu saja! Lagipula, aku tidak akan punya pacar

lain selain Kazu—" ia terdiam, dan berlari masuk ke dalam.

"….."

"….."

"E-EH?" aku berteriak kaget, dan langsung mengikutinya. "T-tadi… maksudnya..?!"

"S-Sudahlah! Lupakan saja!" Yucchan menggenggam pelan tanganku.

Aku tertawa dan memeluknya lagi. "Aku sangat menyayangimu, Yucchan!"

"K-Kazuki? Kau tidak apa?"

Aku tersadar di sebuah ruangan putih dengan Yucchan dan ibu di sebelahku.

Aku memaksakan sebuah senyuman pendek untuknya, "Tidak apa… Apa yang terjadi?"

"Kau mengalami kecelakaan... Sebuah mobil menabrak sepeda motormu." Ibu menggenggam

pelan tangan kananku. "Kakimu…"

"Ah, dari tadi kakiku terasa sakit sekali, apa sudah diperiksa?" aku bertanya sambil menunjuk kakiku.

Tiba-tiba saja Yucchan membenamkan wajahnya dan menangis, aku benar-benar heran dan menatap ibu. "Ada apa?"

Ibu mulai berkaca-kaca dan menunduk. "Kakimu lumpuh… Kata dokter, ini mungkin akan permanen… Kau harus menggunakan kursi roda mulai saat ini…"

Aku terdiam sesaat, sempat terpikir untuk menangis. Tapi aku melihat Yucchan yang histeris dan menepuk-nepuk kepalanya pelan. "Yucchan~"

Ia mendongak dan memandang wajahku, air mata masih menetes lembut dari matanya. Aku tersenyum kecil dan memeluknya, "Tenang saja, ini tidak seberapa kok! Jangan menangis ya? Untung saja bukan tanganku yang terlindas mobil! Ya 'kan?"

Ia menghapus air matanya dan tertawa pelan. "Ya…"

Aku mengelus-elus kepalanya pelan. "Yucchan anak baik… Jangan sedih ya?"

Ia memelukku. "Ya… Kazuki juga jangan sedih…"

"Tenang! Tidak akan ada yang dapat membuatku sedih!"

Benarkah?

"Yucchan…"

9.56 AM – Tsukasa's POV

"Kazuki menyebalkan!" Aku melihat Izuna turun ke bawah dengan kesal bersama Akita. "Aku tidak mau sama-sama Kazuki lagi! Jahat!"

"Izuna, jangan bodoh…" Akita yang tenang hanya berkomentar dan mengambil tasnya dari meja.

Aku segera bangun dari sofa menuju ke arah mereka. "Ada apa?"

Akita hanya mengangkat bahu. "Ah, cuma Izuna yang agak merepotkan—"

"AKU TIDAK MEREPOTKAN!" Izuna melempar tasnya ke arah Akita dan berpaling ke arahku. "Kazuki yang aneh! Dia jadi lain! Tidak ceria lagi seperti biasanya! Benar-benar mental-break-down! Dia bukan Kazuki!" Izuna masih marah-marah dan mengajak Akita keluar. "Kami pulang dulu! Jam istirahat akan segera berakhir!"

"I-Izuna!"

Aku tersenyum lirih. "Tidak apa, aku mengerti. Biar aku yang bicara pada Kazuki."

Akita membungkuk. "Aku benar-benar minta maaf. Selamat siang."

"Ah, ya."

Beberapa saat kemudian, terlihat Sayaka yang berlari turun ke bawah. Ia berhenti di hadapanku dengan napas terengah-engah. "M-maaf… aku harus kembali sekarang… Jam istirahat sudah habis."

Aku tersenyum. "Ya, terima kasih sudah datang…"

Ia membungkuk dan berkata riang. "Sama-sama, itu bukan masalah. Selamat siang!" ia segera berlari keluar mengkuti Izuna dan Akita.

Aku berjalan ke atas, mendapati Kazuki yang sedang duduk di tempat tidurnya. Membersihkan biola yang sudah tidak ia mainkan sejak kematian Yuka.

Ia masih membersihkan biolanya dengan serius, tidak menoleh ke arahku, "Aku sudah tidak bisa bermain biola lagi…" gumamnya pelan. "Padahal aku sangat, sangat suka bermain biola…"

Aku tertegun dan duduk di sebelahnya. "Kazuki—"

"Aku tidak bisa." Ia menyela. "Aku tidak bisa."

"Kazuki, sudahlah! Hentikan semua ini! Kau tidak bisa begini terus!" Aku hampir berteriak kesal.

"Kau pikir kematian Yuka dapat kau jadikan alasan untuk lari dari kenyataan?!"

"Aku tidak lari dari apapun!" ia membalas perkataanku dengan geram.

"Kalau begitu berhentilah bersikap begini! Kau—"

"Jadi menurutmu aku senang dalam keadaan ini? Menurutmu aku suka begini?" Ia melempar biolanya ke arahku dengan keras. "Kau pikir begitu, kak?! Kau pikir aku senang?!" Teriakannya perlahan-lahan berubah menjadi tangisan lemah, yang semakin lama semakin pelan. "Aku juga tidak mau… Aku ingin bisa tersenyum lagi… Aku ingin bisa tertawa lagi… Aku ingin bisa bersenang-senang dengan teman-temanku… Aku ingin bisa main biola lagi… Tapi, aku selalu memikirkan Yucchan… Aku… selalu… ukh…"

Aku terdiam, menyentuh pipiku yang lebam terkena lemparan biolanya. Tanpa bersuara, aku membawa biolanya dan berjalan keluar kamarnya, menutup pintu perlahan. Kazuki, tetap saja Kazuki. Seperti apapun keadaannya sekarang. Dan aku tidak akan sanggup meneriakinya lagi dalam keadaannya yang seperti itu.

6 PM – Kazuki's POV

Aku tidak bisa begini lagi…

Aku tertidur setelah puas menangis tadi dan terbangun saat hari sudah gelap. Aku memandang sedih ke arah biola yang tergeletak di pinggir mejaku, senarnya yang rusak sudah diperbaiki. Mungkin oleh kakak.

Aku selalu, selalu, selalu saja, hanya bisa merepotkannya, selalu membuatnya susah, selalu mengganggunya… Kadang-kadang, aku membenci diriku yang seperti itu.

Tapi aku tidak pernah berpikir seperti itu saat ada Yucchan, karena Yucchan yang bilang sendiri, ia membutuhkanku, aku ini penting baginya. Aku juga membutuhkan Yucchan, Yucchan adalah yang terpenting bagiku.

Tapi saat ia pergi, aku bahkan tidak dapat melakukan apa-apa.

Lagi-lagi air mata mulai menetes dari mataku, membasahi pipiku. Perlahan-lahan aku mencoba duduk di tempat tidur, mengambil biolaku. Mulai kumainkan kembali lagu yang selama ini selalu kumainkan untuknya, yang memang ingin kumainkan hanya untuknya. Lagu yang akan menjadi musik terakhirku, musik terakhir kami, sebelum aku mengakhirinya untuk selamanya.

Tanpa dia, aku tidak lagi berarti. Tanpa dia, aku ini sudah 'mati'. Tanpa dia, aku tidak akan bertahan.

Aku tidak akan dapat menghentikan semuanya, semua ini memang harus kulakukan. Aku tidak dapat mengubah apapun.

7. 30 PM - Tsukasa's POV

Aku sudah mengetuk pelan pintu kamar Kazuki dari beberapa menit yang lalu, tapi ia masih tidak mengizinkanku membukanya ataupun merespon panggilanku, tetap terdiam di kamarnya.

Aku menghela napas pelan. Harus kuakui, aku terkejut saat mendengar permainan biola Kazuki tadi. Setelah ia berkata bahwa ia tidak akan bermain biola lagi, permainannya masih sama seperti biasa, bahkan lebih bagus, dan menyedihkan.

Perlahan-lahan kubuka sedikit pintu kamarnya, mengintip ke dalam kamarnya yang gelap karena tirai yang ditutup dan lampu yang dimatikan. Kazuki masih duduk di tempat tidurnya sambil memegang erat biolanya, tanpa bergerak sedikitpun.

Aku menghela napas pelan, mulai berjalan masuk dan berdiri di dekatnya, menggenggam tangannya.

"Kazuki—" aku tersentak saat menyentuh tangannya yang dingin. Aku mulai berlari ke arah saklar dan menyalakan lampu, dan mendapati tanganku yang sudah basah oleh darah.

Darahnya.

"K-Ka-Kazuki..?"

Bagaimana rasanya?

Ketika kau benar-benar kehilangan orang yang kau cintai?

Apa kau ingin tahu bagaimana rasanya?

Akan kutunjukkan padamu,

bagaimana rasanya apabila orang yang membuatmu tetap hidup pergi meninggalkanmu.

Rabu, 15 Juli - 9 AM

Aku menangis di depan makam keluarga kami, makam Kazuki dan ayah. Ayah sudah 'pergi' meninggalkan kami saat kami kecil. Waktu itu, Kazuki masih jauh terlalu kecil dan belum dapat mengerti apa-apa, dan ibu memintaku untuk merahasiakan hal ini darinya. Sekarang, meskipun ia tidak mengetahuinya, ia akan ada bersama dengan ayah.

Makam keluarga kami bersebelahan dengan makam keluarga Tachibana, makam keluarga Yuka. Kazuki sama sekali tidak meninggalkan surat atau catatan apapun tentang tindakannya, saat ditemukan, pergelangan tangannya sudah penuh darah dan luka yang disebabkan oleh goresan silet yang ada di tangan kanannya.

Meskipun begitu, aku tahu, ia pergi untuk menemui Yuka.

Padahal seharusnya ia bisa bertahan, padahal seharusnya ia tidak perlu melakukan hal ini, padahal seharusnya aku bisa melindunginya.

Satu kehilangan sudah cukup untukku.

Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan Kazuki. Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang terpenting bagiku. Sama seperti yang Kazuki rasakan.

Mati.

Aku hanya ingin pergi dari sini.

Aku ingin pergi dengannya.

Aku ingin dapat kembali bersamanya.

Dapatkah kau kabulkan, permintaanku ini?

Let me play this last music

Only for you, for me, for us

Only for the one last time

Because it's going to be my last song

Your last song, our last song.

This is a song I made only for you.