I'm falling to temptation...

This special chapter dedicated to my friend Ebi. Because of her drawing i make this story. Enjoy it :)


PLAYING PARENTS

Setengah tahun sudah pernikahan mereka berjalan dan secara perlahan namun pasti, hubungan Sarah dan Bernard mulai membaik. Keduanya mengakui bahwa kehidupan pernikahan memang tidak semudah yang mereka bayangkan, namun mereka berusaha untuk menjalaninya. Mereka baru saja akan memulai salah satu sarapan santai mereka di hari Sabtu saat bel pintu terdengar. Sarah dan Bernard saling berpandangan, bertanya-tanya apakah mereka mengharapkan kedatangan tamu sepagi ini. Yakin tidak ada yang mengundang siapapun, Bernard pun beranjak untuk membuka pintu dan melihat tamu mereka.

Dan di sanalah berdiri Kathlyn dengan keponakannya, Vincent. "Kath?" tanya Bernard kebingungan. Tanpa menjawab sapaan adiknya, Kathlyn masuk ke dalam apartemen sambil menenteng tas Vincent.

"Ada apa Kath kau datang sepagi ini?" tanya Bernard setelah ia menutup pintu.

"Kathlyn, Vincent?" Sarah ikut menyambut mereka di pintu depan.

Kathlyn tersenyum pada Sarah lalu meletakkan barang bawaannya di meja terdekat. Setelah menyuruh Vincent ke dalam, ia berbalik menghadap Bernard dan Sarah yang berdiri kebingungan.

"Sebaiknya kau punya alasan jelas setelah menginvasi rumah orang pagi-pagi begini," kata Bernard.

"Ada apa, Kathlyn? Kenapa kau terlihat buru-buru sekali?" tanya Sarah sekali lagi.

"Baiklah…" kata Kathlyn akhirnya, "Begini, aku benar-benar membutuhkan bantuanmu! Aku harus pergi mengurus ibu Daniel yang kena stroke pagi ini di Malang. Daniel sedang dinas ke Singapura dan baru bisa sampai besok pagi. Aku tidak bisa membawa Vincent karena ia lebih memilih untuk tinggal dengan kalian daripada ikut denganku. Kau bisa membantuku menjaga Vincent sampai besok siang sampai aku bisa menjemputnya? Bagaimana? Bagaimana?"

Bernard dan Sarah memandang Kathlyn tanpa berkedip. Heran bagaimana seseorang bisa berbicara dalam satu tarikan nafas. "Kathlyn…"

"Bisa kan? Aku sudah menyiapkan segala keperluannya dalam tas ini. Mainannya ada di tas ransel yang dibawanya sendiri. Aku harus mengejar pesawat jam 9."

Bernard menghela nafas melihat kelakukan kakak perempuannya. "Aku rasa…"

"Vincent!" panggil Kathlyn. Vincent kembali lagi ke ruang depan setelah mendengar panggilan itu. Kathlyn menunduk untuk memeluk Vincent. "Be a good boy. I'll see you again tomorrow. Okay?"

Vincent menangguk penuh semangat. "Yeah! I promise to be a good boy!"

"Kathlyn…" panggil Bernard sekali lagi.

"Sekarang aku harus pergi. Taksinya sudah menunggu. Kalau tidak pergi sekarang argonya akan semakin bertambah." Kathlyn memeluk Sarah dan beralih untuk memberikan ciuman singkat di pipi Bernard. "Take care of him. See ya!"

Dan Kathlyn segera pergi keluar dari apartemen.

"What happened here?!" seru Bernard frustasi.

.

.

.

Bernard mengaduk-aduk kopi di hadapannya tanpa ada niat untuk meminumnya. Ia masih kesal dengan kelakuan Kathlyn yang seenaknya datang, menitipkan anak, lalu pergi tanpa ba bi bu. Benar-benar tipikal Kathlyn yang diktator. Di depannya, Vincent sedang menikmati roti bakar dan segelas susu yang diberikan Sarah.

"Bagaimana mungkin aku bisa mempunyai kakak seperti dia?" gumam Bernard sambil terus menatap Vincent.

"Jangan begitu. Kau tau dia sedang kesulitan. Lagipula, kau kan paman favoritnya. Tentu saja Kathlyn akan menitipkan Vincent di sini," sahut Sarah yang mengambil tempat di sebelahnya.

Bernard semakin cemberut mendengar Sarah setuju dengan kedatangan Vincent hari ini. Bukannya ia tidak suka menjaga keponakannya. Vincent keponakan kesayangannya juga. Ia akan memberikan waktunya untuk menjaga Vincent jika ia bisa. Namun ia tidak memikirkan untuk menjaga Vincent hari ini. Terutama hari ini.

Ia dan Sarah sudah merencanakan hari ini untuk pergi berdua. Mereka berencana menghabiskan waktu bersama sebagai pengganti waktu-waktu sibuk mereka di hari biasa. Bernard berpikir dengan menghabiskan waktu bersama Sarah hari ini, ia bisa lebih mengenal dan memahami Sarah. Tidak ada di dalam pikirannya untuk menghabiskan waktu menjaga Vincent hari ini.

"Ben…" panggil Sarah, dengan senyum khasnya, "Masih ada Sabtu depan untuk rencana kita hari ini. Jadi, jangan cemberut begitu." Bernard semakin cemberut, kesal Sarah lebih mementingkan keponakannya. "Minggu depan kita menginap?"

Bernard menoleh ke arah istrinya, memicingkan mata mendengar tawaran Sarah. "Kau yang membuat janji. Aku tidak menerima pembatalan di waktu kapanpun."

Sarah tertawa kecil mendengar jawaban Bernard. Ia suka mendengar tawa Sarah. Bernard ikut tersenyum saat Sarah memberikan kecupan ringan di bibirnya.

"Uncle Bernard! Do not kiss her!"


Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar untuk menghabiskan waktu. Vincent memilih untuk pergi ke Dufan. Mau tidak mau Bernard menyetujuinya. Ia juga tidak ingin menghabiskan hari Sabtu dengan diam seharian di rumah. Setelah sampai di sana, Vincent memilih untuk pergi ke Sea World terlebih dahulu. Vincent terlihat begitu bersemangat saat memasuki area pengetahuan hewan laut itu. Ia berlari ke sana kemari dan begitu asyik melihat berbagai macam mahluk laut di sana. Sikap ingin tahunya membuat ia bertanya setiap kali melihat hewan yang tidak pernah ia lihat. Saat memasuki area terowongan bawah air, ia semakin hiperaktif.

"Uncle Bernard, lift me up! I wanna touch that fish!"

"Huh?"

"Lift me up! Lift me up!"

Bernard menghela nafas sebelum menggendong Vincent naik ke atas bahunya, membiarkan ia menikmati pemandangan bawah laut dengan ikan-ikan yang berenang ke sana kemari.

"Whoaaaaa what a huge fish!"

"That's a stingray," kata Sarah menjelaskan.

"Seahorse! Seahorse!" teriak Vincent. "Put me down! Put me down!"

Bernard menurunkan Vicent dari pundaknya dan membiarkan keponakannya melihat kuda laut itu dari dekat. Sarah memberikan sedikit pijatan pada bahu Bernard setelah Vincent turun. "Sudah lama aku tidak main ke sini. Rasanya menyenangkan."

Bernard membiarkan Sarah menggandeng lengannya dan bersama-sama mereka berjalan menyusuri terowongan bawah air itu. Vincent berjalan di depan mereka, masih begitu terpesona dengan kuda laut dan ikan lainnya.

"Uncle Bernard, lift me up!"

"Lagi?"

.

.

.

Vincent menepukkan tangannya dengan penuh semangat saat pertunjukkan anjing laut selesai. Ia terlihat sangat menikmati pertunjukkan itu dan merasa takjub saat anjing laut itu begitu pintar menjalankan instruksi dari pelatihnya.

"Hoaaaa… Can I touch it? Can I? Can I?"

"No, Vincent…" jawab Sarah lembut. "It only listens to their instructor…"

"But… I wanna touch it! I wanna play with them! I wanna pet them!"

Bernard menghela nafas saat senjata rengekan Vincent keluar. Ia mencoba menahan rasa kesalnya, berharap rengekan itu akan segera berhenti. Bernard hampir tidak bisa menahan diri lagi tepat sebelum Sarah mengambil alih.

"Stop whining, Vincent," kata Sarah tegas namun tetap dengan kelembutan. "You'll get nothing from whining. You got it?"

Bernard ikut terdiam menatap Sarah yang sedang memandang keponakannya dengan tatapan tegas. Vincent langsung diam dan mengangguk pelan. Setelah Vincent diam, Sarah kembali mengeluarkan senyumnya. "The show's ended. Shall we watch another show?" tanya Sarah sambil mengeluarkan brosur jadwal pertunjukkan. "How about dolphins? It will start in 30 minutes. You wanna go there and ask the instructor whether you can play with the dolphins?"

Ekspresi wajah Vincent langsung berubah cerah memikirkan kemungkinan bermain dengan mamalia favorit itu. Ia spontan berdiri dan menarik tangan Sarah serta Bernard untuk segera pergi ke tempat pertunjukkan lumba-lumba.

"Bagaimana kau bisa mendiamkannya tanpa emosi?" tanya Bernard takjub.

"Jangan remehkan pengalamanku mengasuh Angela dan Mandy," jawab Sarah, lengkap dengan kedipan matanya.


"I wanna play there!" seru Vincent sambil menunjuk area permainan anak-anak yang ada di daerah Gelanggang Samudera.

Mereka baru saja makan siang saat Vincent menarik tangan Sarah untuk menemaninya main di sana. Bernard duduk di salah satu bangku batu, masih tidak ingin menggerakkan tubuhnya setelah seharian berputar. Sambil membereskan sisa-sisa makan mereka, ia memperhatikan Sarah yang sedang menemani Vincent bermain perosotan dan Jungle Gym. Sarah terlihat masih memiliki energi untuk menemani Vincent.

Bernard berpikir bagaimana Sarah bisa begitu sabar dan cekatan menghadapi anak kecil. Lalu ia teringat pada kedua adik Sarah, Angela dan Mandy. Bernard adalah anak terakhir, dengan seorang kakak perempuan yang diktator, jelas pengalamannya jauh lebih sedikit. Namun, saat Kathlyn melahirkan Vincent, ia belajar sedikit demi sedikit memahami anak kecil ketika ia menjaga Vincent. Hal yang tidak pernah terpikir olehnya dulu.

Tidak hanya menjaga anak kecil, Ia juga tidak pernah membayangkan kehidupan pernikahan setelah kejadian dengan Emma dulu. Namun sekarang, setelah Sarah memasuki kehidupannya, ia bisa melihat bayangan itu. Ia bisa melihat kehidupannya bersama Sarah, mungkin dengan seorang anak. Atau lebih.

Bayangan seorang anak membuat Bernard tersenyum. Perempuan atau laki-laki? Berambut ikal seperti Sarah atau lurus seperti dirinya? Bernard berpikir ia suka jika anaknya nanti mewarisi mata Sarah, atau bibirnya. Mungkin ditambah sedikit garis hidungnya dan alisnya? Dan ia berharap sikap anaknya tidak seperti Vincent yang terlalu hiperaktif. Kalau anak perempuan, ia berharap anak itu akan mewarisi sifat lembut Sarah dan jika anak laki-laki, ia berharap anak itu nanti bisa melindungi Sarah dan adik-adiknya nanti.

Bernard menggelengkan kepalanya. Merasa sedikit takjub dengan bayangan yang tadi terbentuk dalam kepalanya. Bayangan itu terlihat begitu jelas sampai-sampai terasa seperti sebuah memori.

"Ben!"

Teriakan Sarah membuat Bernard mengalihkan perhatiannya. Dari tempat ia duduk, Bernard bisa melihat Sarah yang berjongkok di samping Vincent yang terduduk di tanah. Bernard buru-buru mendatangi mereka dan menangkap sosok Vincent sedang menangis sambil memegangi lututnya yang terluka.

"Ada apa?"

"Ia terjatuh saat aku sedang menerima telepon."

Bernard mendatangi Vincent yang masih menangis sambil memeluk lututnya. Ia menepuk kepala Vincent untuk mengalihkan perhatian Vincent dari rasa sakitnya. "Uncle Bernard…"

"You okay?" tanya Bernard lembut.

Vincent menghapus air matanya, mencoba menghentikan air mata yang masih mengalir. "It's hurt…"

Bernard tersenyum sekali lagi sebelum menggendong Vincent, berhati-hati untuk tidak menyentuh bagian yang terluka. Sarah mendekat ke arah mereka lalu mengelus rambut tebal Vincent. "It's okay… You'll be fine." Vincent mengangguk menanggapi senyum Sarah.

.

.

.

Ketika mereka sampai di rumah, Sarah memandikan dan mengobati luka Vincent dengan menempelkan plester pada lututnya. Karena Bernard harus pergi ke luar untuk menemui koleganya yang baru datang dari Bali, Sarah dan Vincent memilih untuk makan malam duluan. Sisa hari itu, mereka habiskan dengan menonton rangkaian film kartun yang ditayangkan di TV kabel. Sarah mematikan lampu ruang utama untuk membuat suasana terlihat seperti bioskop dan menyediakan segelas susu hangat serta sepiring biscuit cokelat untuk Vincent. Mereka memasuki film kartun yang kedua saat Sarah merasakan Vincent bersandar padanya. Tidak lama kemudian, komentar-komentar anak itu sudah tidak terdengar lagi.

Vincent sudah tertidur pulas sambil bersandar pada Sarah. Vincent yang sedang tidur tidak terlihat seperti seorang anak dengan segudang pertanyaan dan energi yang tidak ada habisnya. Sarah tersenyum, menyadari bagaimana sosok seorang anak bisa berubah di siang dan malam hari.

"Apa anakku nanti juga akan seperti ini?" gumam Sarah. Wajah Sarah spontan memerah saat kata-kata itu keluar. Anaknya berarti anak Bernard juga. Senyum Sarah mengembang saat membayangkan anggota keluarga bayangan itu. Bayangan itu terlihat makin nyata saat ia mulai memejamkan mata, mengikuti Vincent ke alam mimpi.

.

.

.

Bernard menemukan Sarah dan Vincent di ruang keluarga, tertidur pulas di sofa, dengan TV yang masih menyala. Bernard mendatangi mereka dengan perlahan. Sarah tertidur dengan posisi Vincent yang bersandar padanya. Bisa dibilang posisi tidur Sarah tidak nyaman. Bernard tau kalau Sarah tidak tega untuk membangunkan Vincent yang sudah tertidur lebih dulu. Vincent sendiri terlihat begitu nyenyak dan tidak bergerak dalam tidurnya. Memori akan kegiatan mereka seharian ini diam-diam membuatnya tersenyum.

Jujur ia merasa kegiatan menjaga Vincent hari ini tidak seburuk dugaannya. Ia bersyukur ia bisa menghabiskan hari ini bersama Sarah dan Vincent. Kejadian hari ini membuatnya yakin bahwa Sarah akan menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anaknya nanti. Anak mereka, anaknya dan Sarah. Ia menepuk lembut rambut ikal Sarah yang tebal dan mendaratkan ciuman lembut di keningnya, mencoba menyampaikan perasaan syukurnya.

Dengan berhati-hati, Bernard pun mengangkat tubuh Vincent, berusaha tidak membangunkan Sarah yang masih tertidur nyenyak. Ia membuka pintu kamar tamu, membaringkan Vincent di kasurnya, lalu menyelimutinya. Saat ia hendak keluar dari kamar tamu, Bernard mendapati Sarah sedang bersandar pada pintu kamar tamu, terlihat mengantuk dengan mata setengah terpejam.

"Kau sudah pulang?" tanyanya mengantuk. Bernard tersenyum melihat Sarah dan segera mendatangi istrinya itu. Ia menutup pintu kamar ruang tamu, lalu beralih memeluk pinggang Sarah sambil menuntunnya ke arah kamar tidur utama. "Nampaknya yang kehabisan energi hari ini bukan hanya Vincent."

Sarah mengerang kelelahan. "Aku mengakui kalau tenagaku tidak sebanyak dulu untuk menemani anak seumuran Vincent bermain."

Bernard terkekeh mendengar jawaban istrinya itu. "Masuklah ke dalam kamar. Aku akan mengunci pintu dan mematikan lampu sebelum tidur."

Sarah mengangguk menuruti saran Bernard. "Oh, Ben… Kau ingin minum susu? Tadi aku membuat untuk Vincent dan masih ada sisa. Kalau kau mau, aku akan menghangatkannya."

Bernard menggenggam bahu Sarah dan memutar tubuhnya. "Aku tau," jawab Bernard lagi. "Aku akan menghangatkannya sendiri. Tidurlah." Bernard memperhatikan Sarah sampai ia membaringkan tubuhnya di atas kasur.

Setelah membereskan meja depan, menghabiskan susu favoritnya, mematikan lampu dan mengganti pakaiannya, Bernard bergabung untuk beristirahat dengan Sarah di kasurnya. Bernard mencoba menyelimuti Sarah yang tertidur di atas bed cover dan menarik tubuh Sarah ke dalam pelukannya. Saat inilah saat-saat di mana Bernard merasa bahwa ia sudah pulang ke rumah. Bernard tersenyum saat merasakan Sarah beringsut mendekat ke arahnya. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Sarah, memeluknya lebih erat.

"Aku yakin kau akan jadi ibu yang baik…" gumam Bernard di rambut Sarah. Ia bisa mencium wangi permen yang khas dari rambut istrinya. Tidak lama kemudian, ia pun mengikuti Sarah memasuki alam mimpi.


Dering telpon memaksa Bernard membuka matanya. Tanpa melihat nomor siapa yang menghubunginya, ia berniat mengutuk siapa saja yang mengganggu tidur nyenyaknya.

"Bernard," Kathlyn sudah berbicara sebelum Bernard mengeluarkan sepatah katapun. "Aku titip Vincent sehari lagi. Daniel baru bisa datang malam ini. Besok pagi aku akan penerbangan pertama dan menjemput Vincent. Terimakasih Bernard. Sampaikan salamku pada Sarah!"

Bernard memandang smartphonenya saat Kathlyn memutus pembicaraan mereka. "What the…"

"Ada apa?" gumam Sarah mengantuk.

Bernard mengerang frustasi. "Daniel baru datang malam ini jadi Kathyn baru bisa menjemput Vincent besok."

"Hmm…" Sarah bergerak mendekat ke arah Bernard dan menyembunyikan wajahnya di lekuk leher suaminya. "Just sleep for ten more minutes before you have to do it again…" gumam Sarah lagi sebelum kembali memejamkan mata.

"Do what?" tanya Bernard kebingungan.

Playing parents…


Finally this story out of my mind...

Review please? ;)