Erase

.

Ia tidak bisa melepas dalihnya dari awal, bahkan jika Isabel masih mencekokinya dengan keterangan-keterangan 'realita'-nya.

Nyawa tidak akan kembali hanya dengan 'menuduh seseorang', semua itu tidak mungkin bisa merekasetorkan pada polisi, gambar dibalik buku itu mungkin tidak lebih dari sekedar pemandu sajak.

Theresa sedikit menghindari tugas 'utama' dari kelompoknya itu. Tentang tuduhan mereka—kecuali dirinya—terhadap seseorang dalam kelompok dan seseorang yang tak ada hubungannya.

Apa yang membuat gadis di pinggir bangku kanannya termotivasi untuk tetap menggali makna aneh dibalik sayap buku paling belakang dengan sekumpulan orang-orangan botak, lampu ma-tahari dan penunjuk dalam kompas.

Isabel masih memedulikan buku itu di mejanya.


"Maaf, aku lupa membawa buku Sejarah milikmu." Dia sedikit melirik pada Theresa di sisi-nya.

"Senangnya bisa berkunjung ke rumahmu secara langsung." Ia bahkan tidak yakin dengan yang dikatakannya, silau dari pagar besi tetangga Isabel di antara dua rumah menembak matanya.

"Syukurlah karena tadi Guru Sejarah itu tidak ada."

"Kita tidak tahu yang terjadi besok. Pr dari pelajaran Sejarah mungkin akan diperiksa."

Isabel menggeser pagar rumahnya. "Jangan khawatir, kita bisa menyelesaikannya bersama." Senyuman dari bibirnya yang merapat. "Terima kasih untuk jawaban dari beberapa poin yang kauberikan dari bukumu itu."

"Haha, tidak usah sungkan seperti itu." Theresa mengibaskan tangannya.

Ia mengenang 'seseorang yang tak ada hubungannya' yang dicantumkan mereka berdasarkan kejadian; mereka pernah berkumpul dengan orang itu.

"Masuklah." Dia menggendikan dagunya dan memasuki ruang yang cerah berkat pilihan cat yang tepat—di ruang tamu.

"Seperti ada suara game di dalam." Berembuk, silih berebut, dan memiliki nada seperti konser.

"Seperti yang kautahu; David selalu bermain game di rumahku."

'Seseorang yang tak ada hubungannya' itu adalah David; teman dekat Isabel.

Kenapa dia bisa—bahkan tidak keberatan—menuduh temannya sendiri?

David tampak seperti 'anak yang baik' sebagai penghuni yang paling sering mengisi rumah.

Ia menunggu Isabel di kursi kosong—ruang tamu yang akan membawa buku ala kadarnya—dihamparkannya di sini.

Lorong yang tepat dipinggirnya tidak bisa membuatnya lebih tahu game itu semudah kede-ngarannya. Ia hanya seketika menemukan gelombang yang berbeda di antara sebilah pedang yang silih bersilangan dan musik yang menggemborkan semangat perjuangan.

Tawa yang identik dengan orang jahat yang berhasil melakukan sesuatu. Isabel tidak mungkin memilikinya.

Theresa menjadi kaku dibanding ketika ia menyesap aura asing saat pintu terbuka.


David agak heran dengan permintaan darinya yang seolah tanpa sebuah maksud tertentu.

Memeriksa semua kepingan game itu.

"Tumben kau peduli." Dia hendak kembali pada layar yang dijedanya. "Silahkan."

"Terima kasih." Theresa menyerbu pintu lemari kaca dengan hati-hati terhadap beberapa kabel menjuntai yang berhubungan dengan televisi.

"Hei, Theresa, apa yang ada dalam pikiranmu?" Isabel masih melipat lengan di depan satu-satunya sofa di sana. "Kau ingin bermain game juga?"

"Dia tertawa menakutkan tadi."

"Itu 'kan hanya meniru antagonis di layar."

Theresa bisa banyak meraup kepingan game dalam rongga gelap ini. Ia menyibak kumpulan yang tertata rapi itu, mengambil tumpukan ala kadarnya dan menelisik gambarnya.

Semuanya nyaris tentang perebutan wilayah dan peperangan. Sisanya persaingan.

"Yah, isinya cuma begini."

"Hei, bilang saja kalau kau ingin main game. Jangan sampai mengabaikan pr yang kitakerja-kan, ya." Isabel masih belum mengerti maksudnya.


Isabel baru mengatakan kalimat yang selalu tergantung itu kemarin, setelah mereka menga-khiri tugas sekolah.

"Dia memiliki gangguan semacam….."

Dan Isabel membentuk kemungkinan itu menjadi 'anti sosial'.

Ia baru memahami; kenapa kepingan game bisa bertumpuk seperti gudang kecil di dalam le-mari itu.

Sepanjang jalan pinggiran kota, pikirannya menjadi tidak tenang.

Apa karena kemungkinan itu, pemuda yang berbeda satu tahun dengannya itu 'diperbolehkan' untuk dimata-matai?

Tapi diseberang jalan sana, David ada bersama teman-temannya, menertawakan sesuatu de-ngan kecepatan langkah yang berbeda-beda.

Ia bahkan harus mengerjap jika itu memang David.


Tawa aneh—game-game biasa.

Anti sosial—punya banyak teman.

Theresa mencatat kata kunci yang mungkin bisa dimengertinya.

Tapi ia tidak bisa menemukan jawabannya, kata kunci diam-diam menguncinya.

Mungkin hanya seorang teman dekat yang bisa mengurainya, tapi Theresa cukup berat hati ji-ka menyuruh Isabel untuk memata-matai lebih dalam.

Bagaimana pun bentuknya, seorang teman itu saling melindungi.

"Apa yang sedang kautulis?" Jorge keluar dari ruangan—yang dijadikan markas oleh kelom-pok mereka—sebelum mengatakan itu.

"Hanya bagian dari pekerjaan kita." Ia cepat-cepat menyelipkan buku kecil dan pulpen pada saku roknya.

"Kukira kau ada di suatu tempat. Tadinya aku berniat mencarimu untuk memberitahumu se-suatu."

"Apa itu?"

"Darrel memusuhi kita. Aku salah telah mengintograsinya, dia tahu—kita menjadikannya ter-sangka."

Theresa cukup dengan berdecak, sekaligus keluhan dari napasnya.

Darrel, salah satu anggota grup, yang terpilih untuk menjadi tersangka karena petunjuk sebuah gambar, sekaligus sifat tertutupnya.

Tapi ia memilih menelisik seseorang yang sudah diketahui coraknya.

"Ah, ide ini terkesan mengada-ada."

"Ya, tapi kita bisa mencobanya dulu, 'kan?"

Jorge sedikit heran. "Tumben."

"Sang Ketua harus menerima pendapat anggotanya, 'kan?" Ia melirik orang yang sepadan de-ngannya itu. "Kenapa kau terlihat terkejut cuma karena aku ikut membantu?"

"Biasanya kau akan mengerjakan kasus lain." Jorge berkacak pinggang, tersenyum ala-nya. "Pasti kau akan langsung ikut mengerjakan kasus baru ini."

Theresa menunggu dengan tatapannya.

"Seseorang melapor; ada teriakan aneh di mall kosong yang tak jauh dari pinggiran jalan. Kau pasti pernah melihatnya, 'kan, mall yang berdiri sendiri di sana itu?"


Senja belum surut sepenuhnya, tidak juga mencapai ambang, jadi ia tidak begitu mengkhawa-tirkan suasana yang gelap.

Theresa menyuruh para anggota—kecuali Darrel yang tidak berkunjung setelah diundang—untuk berpencar, namun hanya dirinya yang masih mengumpulkan nyali meski ia cukup ber-teriak jika ada sesuatu yang menakutkan sebagai alarm bagi yang lainnya.

Muka mall berada cukup jauh dengannya—ia berada di belakang bangunan itu, berniat untuk berlari jika keberaniannya sudah membuncah. Seseorang yang lain, menyeberang secara ber-silang menuju mall, dan Theresa menangkap gambaran wajah dengan rambut yang berkibar di bawah temaram lampu pinggiran.

Dengan jaket yang dikenali; itu David.

Di padang rumput berkesan agak kelam ini, Theresa siap berlari ke sana.


Kata kunci yang dicatatnya hanyalah persoalan 'kebalikan kata'.

Hanya mencapai pertengahan; ia kehilangan jejak.

David melesat pada arah yang tak diketahuinya. Ia merasa bodoh dengan caranya berjalan skeptis ketika target masih dalam lingkar matanya.

Kenapa dia berkunjung pada saat mereka mencurigai mall ini?

Senternya tidak banyak menemukan hal aneh, jadi Theresa terfokus pada suara-suara yang a-kan didengarnya. Sesuatu yang berderak, perabotan yang dipindahkan, ataupun teriakan aneh itu. Apapun bisa terjadi.

Bunyi perabotan.

Bunyi perabotan yang dikorek.

Theresa terkesiap, mengitar sambil terus berjalan. Ia bertemu dengan ruang yang luas setiap waktu, tapi baru kali ini terdapat sebuah pintu tertutup.

Dibalik pintu itulah yang mengeruk perabotan yang disertai seruan dua orang yang ketakutan.

Mereka dalam bahaya.

"Hei, buka pintunya! Kasus kejahatan!" Tubuhnya bergetar hebat tapi ia tidak bisa berhenti menendang ke pintu.

Karena sesuatu yang terjadi di dalam mungkin tidak bisa berhenti jika ia hanya menekuri ke-takutannya.

Ketika pintu membagi kebolehannya, Theresa malah berteriak.

Tak disangka, David dan teman-temannya, hanya menonton bioskop kecil-kecilan mereka; film horror.

Hanya ada enam orang; tiga laki-laki dan tiga perempuan.

"Kenapa kau berusaha mendobrak pintu?" Seorang perempuan yang menghela pintu untuknya mencari orang lain di belakang Theresa dari matanya.

"Hei, kau temannya Isabel, 'kan?" David duduk di antara mereka, film berhenti dan mereka semua menyetor wajah padanya.

"Be-Begitulah." Ia memijat senter yang digenggam tangan kanannya. "Aku mendengar orang yang berteriak di dalam sini."

"Mereka hanya dua orang yang dikejar zombie…."

"Sudah kubilang, sebaiknya kita tidak menggunakan mall ini lagi."

"Tapi mall ini adalah pusat di antara rumah-rumah kita."

"Apa tidak ada di antara kita yang diizinkan menonton televisi bersama kelompok?"

Mereka berbicara satu sama lain, ia tergagap meminta untuk diperhatikan, dan David mungkin salah satu jawabannya.

"Kenapa kau bisa ada di sini?" Mata David seperti menyelidik.

"Seseorang mengatakan; selalu ada suara teriakan di mall ini."

Meski ia hanya tertuju pada orang yang bertanya padanya, semua yang ada di sana ternyata i-kut mendengarnya.

"Tuh 'kan, kita sudah sampai di telinga masyarakat." Seorang lelaki menoleh pada teman di sisinya.

"Kenapa kau malah menuduhku?"

Theresa merasa berat sudah mengincar orang yang salah—selama ini.

"Mau ikut menonton?"

"Kami penggemar film horror tingkat berat, lho. Beberapa dari kami mengoleksi kepingan CD-nya."

Ia mengangkat tangan. "Tidak usah. Maaf, sudah mengganggu kalian. Ini cuma kesalahpahaman, ternyata."


Keputusan yang terinsipirasi dari rasa malunya itu harus dipatuhi.

Menghapus prasangka mereka terhadap 'pencarian dan tuduhan' mereka.

"Biarkan polisi yang mencari sesuatu dibalik kebakaran yang menimpa Cleavon." Buku Clea-von yang menjadi pegangan Isabel diambil alih untuk menjadi selipan di antara buku lainnya di markas mereka.

Cerita petualangan mereka tidak begitu buruk dan membahayakan setelah Theresa memberi-tahukan kepada yang lain bahwa masalah suara itu dipecahkan oleh dirinya sendiri.

Darrel belum pulih dari kemarahannya—ia ingin tahu; wawancara macam apa yang membuat-nya tetap begitu-, bahkan belum kembali ke dalam kelompok mereka.

Isabel sudah muram sejak duduk di perkumpulan mereka—meja.

"Maaf, gara-gara kecurigaanku, kalian menjadi repot."

"Lain kali, kita mengerjakan tugas yang masuk akal saja." Jorge memberi senyuman, menga-cungkan ibu jari pada Isabel.

Ia menyadari berbagai hal. Mungkin tawa aneh itu hanyalah tingkat fanatic David terhadap to-koh dalam game dan Isabel kurang memahami teman dekatnya hingga mengatainya anti sosial hanya karena orang itu lebih senang di rumah.

"Tolong sampaikan maafku karena mengikuti David kemarin. Aku tidak sempat mengatakan-nya di antara banyak temannya." Theresa mencoba tersenyum.

Isabel mengangguk. "Aku ingin Darrel masuk dalam grup kita lagi. Aku dalang dari permai-nan ini, juga memata-matai orang itu sampai sedikit menjauhinya."

Ia merasa grup ini akan memulai hal baru. Bukan persoalan menuduh orang, namun bentuk keterbukaan yang harus ditonjolkan, juga kepercayaan.

Isabel yang mau memandangnya di seberang juga merupakan hal baru; pengakuan yang lebih mendalam.

"Hei, jangan memendam kesalahan masing-masing begitu, dong! Aku yang telah mengintog-rasi Darrel hingga dia memusuhi kita. Ini kesalahan kita bersama."


Erase by Latifah Febriani