Seekor penguin sedang memancing ikan di kolam es yang berlubang itu. Dengan perasaan senang, penguin tersebut memancing ikan hingga mendapatkan ikan yang banyak sekali.

Kemudian datanglah seekor beruang kutub dengan membawa jaring berukuran sedang. Penguin yang memancing dengan alat pancing tersebut melihat kedatangan beruang tersebut. Menyadari hal itu, beruang kutub menengok juga ke hadapan sang penguin.

"Sedang apa kau?" tanya beruang kutub.

"Mancing, gan," jawab penguin.

Beberapa saat setelah itu, beruang pun duduk di pinggir kolam dan mulai memancing menggunakan jaring. Dia pun duduk bersebelahan dengan si penguin yang duduk di pinggir kolam juga.

Sang beruang mulai mengaduk-aduk isi kolam tersebut. 1 ikan didapat. Mengaduk-gaduk lagi, 1 ikan lagi didapat. Mengaduk-aduk lagi, 2 ikan pun didapat.

Penguin yang melihat keseruan tersebut terlihat bingung. Sudah cukup lama dia memancing menggunakan alat pancingan. Tapi yang dia dapat hanya 2 ekor ikan.

Beberapa menit kemudian.

Sang beruang mendapatkan banyak sekali ikan. Kalau dihitung, kira-kira sekitar puluhan ikan. Sedangkan si pengiun? Hanya mendapatkan 5 ikan saja.

Dengan kecewa, sang penguin pun mulai bertanya ke sang beruang.

"Kok kau bisa dapat ikan sebanyak gitu sih?"

"Kan aku sudah bilang. Kalo mau dapet ikan banyak, ya pake jaring, jangan pake pancing."

"Tapi tangan kau kotor begitu. Diubek-ubek segala."

"Ye tapi kan kalo dapet jaring ini kan, kau bisa dapet banyak ikan."

Dengan bingungnya, si pengiun mulai marah.

"Ya kalo gitu, itu kolam bisa jadi kotor kalo tangan kau masih ngobok-ngobok terus tuh kolam," seru penguin.

"Ya biarin. Daripada kau mancing cuma dapet ikan 5 biji gitu," seru balik si beruang.

"Ya gak bisa gitu dong..."

Penguin mulai menggenggam sayar sirip kanannya, serasa ingin menampol sang beruang.

"Berantem yok?!" tanya penguin.

"Ya gak gitu lah...," kata beruang. "Coba aku cek dulu pancingan kau itu."

Beruang memegang alat pancing sang penguin tersebut. Selanjutnya sang beruang mulai memperhatikan detail demi detail dari alat pancing tersebut. Kemudian arah pandangannya tertuju pada umpan yang masih terikat tali tersebut.

"Ya pantes...," kata beruang. "Umpan kau pake cacing ternyata," lanjutnya.

Sang beruang pun melanjutkan pembicaraannya. "Kalo mau mancing di sini ya, gan, ya pake daging lah..."

"Lah kau goblok ya?" tanya si penguin. "Di sekitar sini mana ada daging?"

"Ya kau beli di toko kelontong bibi kau itu juga bisa, nak," lanjut beruang. "Ngapain harus berburu daging liar segala?"

"Ye... goblok! Maksud kau pake daging ikan yang dijual ama bibi aku itu? Ya sama aja boong, bodoh."

Amarah sang penguin tak tertahankan. Sayap kanannnya mulai menghajar pipi kiri si beruang kutub. Beruang mulai mengelus pipi yang kesakitan itu. Tak lama, kaki kanan sang beruang mulai menendang bagian selangkangan bawah antar kaki sang penguin. Si penguin mengelus bagian tersebut, kesakitan, dan akhirnya badannya terjatuh.

"Beruang goblok lu ye!" Amarah penguin makin memuncak. Tapi sang beruang sudah mulai meloncat di atas hadapannya. Sang beruang menekuk lutut tangan kanannya. Tekukan lutut sang beruang menghadap tepat di depan muka penguin. Muka si penguin terkena lutut sang beruang. Sang penguin kesakitan. Dia menutup mukanya menggunakan dua sayap sambil menjerit kesakitan.

"Wadaw!" seru penguin, dengan muka kesakitan.

"Rasakan kau itu, bujang...!" marah sang beruang kutub.

Walau muka masih merasakan kesakitan, sang penguin pun tak mau kalah. Dia mendirikan lagi badannya, mengangkat kaki kanannya, dan menendang tepat di bagian bawah wajah sang beruang. Dagu beruang pun terasa pegal-pegal, dan beruang mulai mengelusnya dengan tangan kiri.

"Si bangsat!" seru beruang.

Tak lama setelah itu, si beruang mulai melayangkan tangan kanannya dan menghajarnya tepat di muka si penguin lagi. Tak mau menyerah, si penguin kemudian mencoba melayangkan kaki kirinya ke arah pinggang beruang. Kemudiannya, tangan kiri si beruang mengepal dan menonjok tepat di atas kepala si penguin. Lanjutnya, si penguin mengempaskan sayap kiri ke sekitar leher si beruang.

Dan momen baku hantam pun semakin tak terhindarkan.

Hingga cerita ini diturunkan, sang anjing laut berwarna coklat kuning kecoklatan—yang di kala kejadian itu tak jauh dari area kolam dan juga sebagai saksi atas kejadian aneh itu—hanya bisa menjelaskan hingga ke titik itu, dikarenakan sang anjing lebih memilih kabur selambat-lambatnya daripada terikut-ikutan dengan adegan baku hantam tersebut.

Entahlah selanjutnya apa yang terjadi dengan si penguin dan sang beruang kutub. Mungkin mereka sekarang sudah dipindahkan ke rumah sakit terdekat. (")