A/N: halo semua! Saya author baru di FictionPress, dan ini karya pertama saya. Isinya tentang OC saya dan OC sahabat saya! Tentu kalian sudah tahu OC saya yang mana- sudah terlihat dari username yang saya pakai ya, haha. Saya update ini setahun sekali untuk merayakan Mirza dan Riota Day yang kebetulan jatuh hari ini!

So, enjoy! :D

=o^o=

Riota dan Mirza tak menyangka percakapan kecil yang disengaja dulu membawa keduanya ke dalam hubungan yang lebih dari sekedar orang asing. Memang, ini bukan seperti kisah romantis seperti drama televisi di mana sang tokoh lelaki memberanikan diri mengajak kenal sang tokoh perempuan dan perlahan mereka dekat, lalu jatuh cinta layaknya sinetron kebanyakan. Ini, lebih dari semuanya. Sesuatu yang sangat diharapkan Mirza, sesuatu yang sangat diinginkan Riota. Katakan, mereka berdua memang saling menyukai, tapi sebagai teman dan sahabat.

"Tapi cowok dan cewek tidak bisa bersahabat sedekat itu, pasti lama-lama bakal suka!"

Pft, Riota hanya akan menertawakan orang yang berkata seperti itu keras-keras bersama Mirza. Kalimat tersebut hanyalah omong kosong belaka, buktinya adalah kedekatan hubungan mereka.

Terkadang Mirza merasa harus berterimakasih pada Riota lantaran telah mengajaknya berbincang saat itu, hingga perlahan demi perlahan sebuah hubungan terjalin di antara mereka berdua tanpa disadari. Dan Riota ingin selalu berterimakasih pada Mirza sebab Mirza tak pernah meninggalkannya seperti banyak temannya. Pelan-pelan luka dalam hati mereka tersembuh, saling mengobati satu sama lain, walau itu semua masihlah membutuhkan waktu.

Tapi, sungguh mereka bersyukur bisa saling memiliki.

Sifat dewasa dan teratur Mirza klop dengan Riota yang terkadang kekanakan dan periang, agak bertolak belakang tapi tidak apa, mereka masih melengkapi.

Sebenarnya sudah beberapa kali Mirza bertemu dengan Riota di gedung kampus ketika mereka masih belum berkenalan, berbincang ria dengan beberapa temannya. Mirza hanya bisa mendengus kecil melihat senyum Riota saat itu, terlalu ceria. Dan karena Mirza sadar, teman-teman dari pemuda itu cuma ingin memanfaatkan kebaikannya saja, membuat Mirza jengah—walau mereka saat itu masih belum mengenal tapi kenapa Riota tidak jujur saja bahwa dia lelah dengan semua kepalsuan temannya? Jujur Mirza merasa sok tahu sekali, tapi pengamatannya jarang meleset.

Ketika Riota mengajaknya berbicara..

"Uhm, halo." Riota menyapanya yang sedang duduk di salah satu bangku kafetaria, "Apa aku bisa duduk di sini?"

Mirza mendongak, lantas mengangguk kecil. Tidak berkata apa-apa dan mempersilahkan Riota untuk duduk di hadapannya. Dia masih merasa tak memiliki kepentingan apapun hingga berpikir tak perlu repot basa-basi dengan Riota, mungkin Riota sedang mencari hiburan tersendiri di kafetaria selain duduk bersamanya. Makan, misalnya.

"Kau mau?" Riota, dengan baik hatinya, menawarkan salah satu roti lapisnya pada Mirza.

"Ah, tidak," Mirza menolak halus dengan gelengan kepala.

"Oh.."

Entah kenapa, Mirza malah tak enak sendiri melihat raut kecewa samar yang Riota berikan padanya. Seolah-olah itu menyakitkan bagi Riota.

"Atau mungkin, setengah saja deh."

Riota sontak mengadahkan kepala lagi dengan semangat mendengar perkataan Mirza, netranya berbinar cerah mengetahui Mirza mengubah pikiran dan menerima tawarannya. Lantas Riota membagi jadi dua roti lapis tersebut, dan memberikannya pada Mirza. Senyumnya benar-benar tulus, hatinya terasa menghangat.

Sementara Mirza, beberapa saat terkesiap melihat itu, dan berakhir ujung bibirnya juga terangkat membentuk senyuman tipis. Pemuda ini ternyata menggemaskan.

"Trims," ujar Mirza kemudian, dibalas anggukan semangat oleh Riota.

"Mm, sama-sama!" Riota menunjukkan cengirannya pada gadis di depannya, "Riota Futanabe."

Mirza mengerutkan dahi, "Maaf?"

"Namaku Riota Futanabe," kali ini dia mengulang dengan lebih lengkap dan menjulurkan tangannya pada Mirza.

Mirza memandang uluran tangan Riota beberapa saat, sejenak ragu untuk menyambutnya tapi melihat Riota bersungguh-sungguh ingin berteman dengannya, Mirza menghela kecil dan menjabat tangan Riota. "Mirza Fictoire," balasnya seraya melempar senyum kecilnya pada Riota.

Mungkin, tidak masalah jika Mirza berteman dengannya.

Dan Mirza sampai sekarang tetap menertawakan pertemuan mereka yang terkesan normal serta manis tersebut, memang pertemuan seperti yang dilakukan kebanyakan orang tapi itu menempati tempat khusus di memori Mirza.

Tak diketahui Mirza bahwa Riota juga pernah melihatnya beberapa kali dari kejauhan, dunia ini sempit jadi wajar mereka mengalami hal yang sama. Saat itu Riota tidak bisa terlalu mengungkapkan pendapatnya tentang Mirza, kecuali sikap ramahnya kepada orang lain—ah jangan lupa beberapa sarkas yang sanggup membuatnya meringis. Ramah, tapi dingin, entah bagaimana caranya untuk dideskripsikan Riota tidak tahu. Mirza tidak terlalu terikat dengan komunikasi sosial, pertamanya Riota melihatnya keren karena Mirza bertingkah tak peduli dengan semua itu.

Tapi kemudian Riota menyadari, netranya menampakkan sepi. Riota seperti melihat dirinya sendiri terpantul dalam Mirza.

Sepi dengan keinginan memiliki teman tulus.

Karena itu, Riota tertarik kepada Mirza. Tapi sayang baginya Mirza susah digapai. Seperti jangkauan Riota rasanya takkan sampai pada Mirza, hingga dia melihat sebuah kesempatan di mana melihat duduk sendiri di bangku pojok kafetaria. Riota cukup bangga lantaran telah berani mendekat lebih dulu, jika tidak mana mungkin mereka sekarang bisa bergurau sedekat ini. Dan tepat seperti dugaannya, Mirza adalah gadis menyenangkan yang tersembunyi oleh kedewasaannya.

"Mirza suka baca komik?" dia bertanya dengan sangat penasaran, apakah Mirza juga suka untuk membaca komik dan manga, karena Riota sangat menyukainya. Meski Mirza tidak menyukainya, Riota juga tak apa.

"Hm, lumayan," jawaban Mirza sudah memuaskan Riota, "tapi akhir-akhir ini aku sudah jarang baca komik. Aku lebih suka novel," Mirza tersenyum bersalah pada Riota.

Riota menggeleng—mengisyaratkan Mirza tak perlu merasa bersalah, "Tidak apa! Kapan-kapan aku bisa meminjamkan komikku kalau kau mau," dia kembali menawarkan.

"Oh tentu, tentu terima kasih."

Ah rasanya Riota senang, setelah seharian ini memang dia merasa begitu suntuk tapi berbincang dengan Mirza bisa menenangkannya. Entah mengapa Riota merasa nyaman di dekat gadis itu, padahal mereka baru kenal—mungkin karena aura yang dikeluarkan Mirza terasa tenang. Dan Mirza juga cukup senang berada di sekitar Riota, seperti semangatnya kembali membara lagi setelah hanya meletup-letup kecil. Dari aura mereka bahkan sudah saling memberi keuntungan.

"Eh—Riota," Mirza mendadak menghentikan jalan mereka ketika dia kepikiran sesuatu, sukses mengambil perhatian Riota dari jalan menuju ke arahnya. "Apa kau mau—tukar nomer hp? Dan email, mungkin?" sebenarnya Mirza cukup ragu menanyakan ini, tapi dia pikir dengan begini mungkin malah akan lebih baik.

Sejenak Riota kaget mendengar itu, padahal tadi dia sudah menimbang-nimbang apakah dia harus bertanya hal serupa atau tidak pada Mirza—dan gadis itu malah menyerobotnya terlebih dahulu. Lantas senyum lebarnya terkembang, "Sangat mau!" Riota menjawab penuh antusias, mengeluarkan ponselnya.

Itu cukup melegakan Mirza, dia kira Riota akan memberikan jawaban menggantung—tapi ternyata tidak. Yah harusnya Mirza tidak heran kalau Riota nyatanya memang berterus terang seperti itu.

"Terima kasih," Mirza berkata, menyungging senyuman tipisnya pada pemuda yang nyengir tersebut.

"Tak masalah!"

Riota tak keberatan jika percakapan mereka begitu normal, saling menanyakan hal-hal yang lumrah dan masih bisa terasa menyenangkan.

Baru kali ini, Mirza menemukan orang yang sangat tepat untuk menjadi temannya. Riota tidak hanya mendukungnya, tapi juga selalu menghiburnya kapanpun itu, sadar atau tidak sadar Mirza mulai membuka diri. Dia sama sekali tak bisa menolak pesona Riota, rasanya seperti memiliki saudara. Mirza tidak tahu apa Riota menganggap hal yang sama atau ternyata Mirza yang terlalu ngarep. Yang pasti, Mirza perlahan menganggap Riota begitu berharga baginya.

Dan Mirza tak ingin melihat Riota terjatuh.

Sebisa mungkin, sebisa mungkin Mirza memberikan Riota apa yang dia perlukan. Mirza sama sekali tak masalah, asal Riota kembali tersenyum dan tertawa, Mirza takkan mempermasalahkannya.

"Kau tidak tahu apa-apa, Mirza.."

Suara Riota terdengar hancur, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang dia tekuk. Rasanya begitu sakit, padahal harusnya Riota sudah biasa dengan semua ketidakadilan dalam hidupnya, tetapi mengapa dirinya masih saja lemah? Perih ini menyebar ke sekujur badan, perih karena perasaan bukanlah fisik. Riota terus-menerus berandai kapan, dia benar-benar bisa lepas dari semua ini. Berandai, kapan dia bisa menerima timbal balik dari kebaikannya selama ini.

Berandai, apakah memang perkataan 'kebaikanmu akan kembali pada dirimu sendiri' itu nyata, atau hanya kiasan belaka dari orang-orang sok.

"Memang," Mirza membalas dengan tenang, menatap Riota dengan tatapan yang tak bisa diartikan melihat temannya nampak lelah dengan semua ini.

"Lalu apa pedulimu?" ujar Riota setengah ketus—tidak dia tak bermaksud, Riota hanya ingin menahan semua rasa mengesalkan ini dalam dadanya. "Kau bilang kau jarang peduli pada orang lain, lalu apa? Kau akan menceramahiku seperti orang lain?" Riota cukup kesal atas apa yang pernah mereka katakan padanya, berkata seolah-olah penderitaan mereka lebih berat dan meremehkan masalah Riota, seakan tak tahu bahwa batas dalam diri seseorang berbeda tiap individu.

Mirza menutup mulut rapat-rapat mendengarnya, dia tak berbicara banyak lagi selain pindah tempat di samping Riota yang tak bergeming sama sekali, sampai Mirza mengangkat wajahnya paksa sampai mata mereka saling beradu.

"Dengar, orang lain adalah orang lain, dan aku adalah aku, Riota, aku takkan melakukan hal bodoh seperti yang orang lain lakukan padamu. Mereka tidak tahu diri karena menganggap diri mereka lebih hebat darimu dan mempermainkamu, aku takkan seperti itu. Kita sebelas dua belas, Riota, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan dan aku sangat, sangat mengerti dengan keadaanmu sekarang," Mirza perlahan mengelus pipi Riota dengan senyum yang mulai terukir di parasnya, "jadi berhentilah menganggap dirimu lemah, kau itu kuat. Bagiku kau keren, Riota. Sangat keren."

"Mirza.."

Riota tak tahu harus membalas apa, dia tidak mengira itu yang akan Mirza ucapkan padanya. Mati-matian Riota menahan panas di mata, tak ingin membiarkan buliran air matanya keluar di hadapan Mirza. Tak bisa dielak rasa hangat nan menyenangkan mulai merasuk ke dalam rongga dadanya dan menyebar layaknya ada kupu-kupu yang berterbangan.

"Aku menyayangimu, Riota."

Bisikannya begitu tenang, dan lembut seiring tangannya mengelus surai cokelat Riota pelan, tatapannya yang teduh membuat Riota merasa nyaman. Isakan kecil mulai lolos dari bibir Riota bersamaan Mirza membawanya ke dalam pelukan erat, berkata-kata pelan seperti; 'Kau kuat', 'Aku tahu kau lelah tapi bersabarlah', 'Aku akan selalu berada di sampingmu', dan masih banyak lagi. Membuat Riota berpikir tangisnya akan pecah, dan nyatanya begitu.

Sudah berapa lama, Riota tak merasakan perlakuan yang menyenangkan dari orang lain? Mirza tiba di kehidupannya dengan segala kemanisan yang dia berikan pada Riota.

Apa Riota, memang pantas mendapatkan sosok seperti Mirza sebagai sahabatnya?

Yah setelah itu Mirza mengejeknya habis-habisan karena dia menangis seperti anak kecil dalam pelukan ibunya, sempat membuat Riota jengkel—tapi pada akhirnya dia hanya akan ikut tertawa lebar dan kembali menghabiskan hari bersama Mirza.

Mirza bukan orang yang dia cintai, karena Riota sudah memilikinya—ganteng, es batu berjalan pula jika di umum. Mirza memang tak bisa selalu membantunya, tapi masih menyempatkan diri guna menghiburnya, tentu Mirza memiliki kehidupan pribadi sendiri. Tapi itu tidak berarti membuat Riota berhenti menyukai Mirza sebagai keluarganya, sosok adik yang bahkan lebih dewasa darinya. Riota terkikik geli sendiri mengingat itu.

Dengan semua perlakuan Mirza kepadanya, Riota tentu berniat membalasnya dengan setimpal. Rasa sayang mereka bahkan seperti saling menyaingi siapa yang memiliki rasa paling besar, dan tentu keduanya akan menang.

Walau Mirza terkesan gadis yang kuat, tapi Riota tahu Mirza juga bisa rapuh. Sama seperti Mirza, Riota tak mau melihat Mirza terjatuh.

"Mirza, ada apa?"

Riota bertanya dengan sangat khawatir, sudah hampir sejam Mirza datang ke apartemennya dan sampai kini tidak membuka mulut sama sekali, layaknya tak ingin mengatakan apa tujuannya kemari. Bukan hal mengagetkan sebenarnya jika mereka saling berkunjung kapan saja, tapi sedari tadi Mirza tidak berkata-kata dan tentu ini membuat Riota cemas. Dahi Mirza mengerut dan alisnya saling bertautan, garis bibirnya melengkung ke bawah dengan mata yang nampak tidak fokus.

Tentu, ini mengkhawatirkan.

Lelaki itu menepuk bahu Mirza, seolah ingin menyadarkan Mirza dari kebingungannya sendiri, sukses membuat Mirza agak tersentak kaget. Dia mengadah dan menemukan Riota memandangnya, isi kepala Mirza begitu banyak tak terbatas saat ini hingga dia sendiri tak tahu harus bereaksi seperti apa. Cuma kilas balik masa lalunya, dan Mirza tidak suka itu. Rasanya seperti Mirza kembali mengalami masa di mana dia belum bertemu dengan Riota.

Sendirian dulu memanglah menjadi temannya kapan saja, tapi sejak mengenal Riota, Mirza menjadi takut untuk kembali sendiri. Apa yang dia rasakan saat ini adalah takut, dengan semua hal hingga memilih pergi ke apartemen Riota, berpikir bahwa dirinya mungkin bisa kembali tenang. Tetapi melihat Riota yang kembali bertanya macam-macam padanya karena khawatir, itu semua terasa lebih buruk lagi bagi Mirza dengan segala pikirannya saat ini.

Bagaimana kalau Riota suatu hari meninggalkannya?

Mirza yakin Riota takkan berbuat seperti itu, tapi bayang-bayang di mana Riota pergi dari sisinya selalu hadir. Mirza tidak ingin, sungguh, dia sama sekali berharap itu tidak akan terjadi. Dia tak tahu harus melakukan apa jika Riota benar-benar melakukannya—dan sekali lagi Mirza mengingatkan diri kalau tak mungkin Riota begitu. Tapi pikiran-pikiran negatif lebih cepat menguasainya, membawa Mirza dalam ketakutannya untuk yang ke entah berapa kali.

Tidak, Mirza tak ingin itu terjadi. Mirza tak ingin kembali sendiri, dia enggan merasakan sepi lagi. Hampa dalam hati yang mulai tertutupi dengan kehadiran Riota ini, Mirza harap tidak terbuka lebar sekaligus.

"Mirza!"

Seruan Riota langsung menyadarkan Mirza dari lamunan mengerikan, menatap Riota yang kini sukses besar dibuat cemas olehnya. Riota mencengkram kedua bahu Mirza dengan erat, "Mirza ada apa? Kau lebih pucat dari seharusnya, Mirza sakit—"

Riota mengangkat alisnya bingung saat Mirza tiba-tiba memeluknya begitu saja, bisa dirasakan olehnya badan Mirza gemetaran. Riota jarang melihat Mirza seperti ini, dia segera membalas dekapan Mirza sambil mengusap surai gadis itu pelan—berharap ini bisa menenangkan Mirza. Dan Riota bisa merasakan, detak jantung Mirza yang sangat cepat, dia berandai apa yang dipikirkan oleh Mirza. Yang dia tahu, sekarang Mirza hanya butuh ketenangan. Maka, Riota melakukan hal yang sama yang selalu Mirza lakukan padanya ketika dia gundah.

"Mirza, tidak apa," Riota berujar dengan pelan, mengelus punggung Mirza supaya Mirza merasa lebih nyaman, "aku bareng Mirza, jangan takut."

Entah kapan terakhir Mirza mendengar seseorang berkata seperti itu padanya, rasanya ada sesuatu yang lain menyusup masuk ke dalam dadanya sekarang, yang begitu nyaman. Hangat. Dan menyenangkan. Mirza menenggalamkan diri dalam dekapan Riota, tak ingin melepaskannya sama sekali.

Sepertinya, Riota tahu apa yang Mirza pikirkan saat ini, dia tersenyum geli sambil menyatukan kening mereka berdua. "Aku tidak akan meninggalkan Mirza, kok!" Riota berkata dengan nadanya yang begitu khas, "karena aku sangat menyayangi Mirza," dan dia melanjutkan dengan nada yang lebih pelan, tapi ujung bibirnya yang tertarik ke atas menciptakan senyuman manis itu menandakan bahwa Riota bersungguh-sungguh. "Makanya," Riota mengubah senyuman itu menjadi cengiran seiring ibu jarinya menghapus lembut setitik air mata yang akan jatuh dari kelopak mata Mirza, "Mirza, jangan sedih, ya?"

"Jangan pergi," Mirza membalas parau, tak bisa ditahan pula rasa senang dalam dadanya yang membuncah seperti kembang api.

"Tidak akan," jawab Riota tersenyum lebar, kemudian dia mengambil tangan Mirza dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Mirza, "janji jari kelingking! Kita tidak akan meninggalkan satu sama lain," lanjutnya riang, nyengir saat melihat Mirza mulai tersenyum.

"Janji jari kelingking."

Riota tidak paham kenapa di akhir dari kejadian itu Mirza malah merubah posisi mereka di mana harusnya Riota yang mengejek Mirza, malah tetap Mirza yang melakukan bully pada Riota dengan nama panggilan Riota yang baru khusus dari Mirza; malaikat.

Jiwa penindas Mirza memang mengerikan.

Riota dan Mirza juga terkadang bisa protektif satu sama lain, meski kebanyakan Mirza yang selalu melindunginya dari apapun yang suka mengganggu Riota. Terkadang cerita mereka juga bisa menjadi bodoh jika sudah menyangkut dengan pacar masing-masing. Mirza yang tidak rela Riota harus jatuh hati pada makhluk seperti Miwaki Kobayama, sampai Riota yang selalu cemberut dan ngambek jika es batu bernama Ryusei Rankines itu gencar mendekati Mirza. Dikata ingin merebut Mirza darinya, Riota setengah tidak ikhlas.

Tapi sepertinya ketidak ikhlasannya kalah dengan milik Mirza saat mengetahui dirinya berpacaran dengan Miwaki.

"Hah—kau sekarang berpacaran DENGANNYA?" Mirza menunjuk Miwaki yang duduk santai di sofa tanpa peduli sopan santun lagi, menatap Riota tak percaya sedangkan Riota mengangguk lugu. "Kenapa bisa?"

"Karena... aku menyukai Miwaki?" Riota menjawab tak kalah polos, sedikit menelengkan kepala bingung—kenapa Mirza harus marah begitu?

Mirza menoleh cepat ke arah Miwaki, yang dia sadari melempar tatapan mengejek padanya. "Kau pakai pelet apa sampai Riota mau?" tanya Mirza menginterogasi, masih tak menyangka dengan pengumuman mendadak Riota tersebut.

"Sembarangan," Miwaki memutar matanya mendengar tuduhan Mirza.

"Jangan begitu pada Miwaki," ujar Riota merajuk pada Mirza, meminta Mirza berhenti memojokkan Miwaki.

"Tapi—Riota! Apa yang kau lihat dari makhluk tak tahu diri dan mesum ini memangnya?" sekali lagi Mirza menunjuk Miwaki tepat di wajah walau dia menatap Riota meminta jawaban.

Dahi Miwaki mengerut mendengar perkataan Mirza tentang dirinya, "Hei," dia menegur dengan kesal.

"Yah, Mirza tidak salah juga," Ryusei menimpal sambil menahan tawa saat Miwaki kini menoleh padanya cepat, tatapannya sudah seperti ingin melempar Ryusei dari lantai paling tinggi. Ryusei menyamarkan tawanya dengan deheman, "Apa kau yakin mau tinggal bersama Miwaki, Riota?"

Riota mengangguk semangat, "Tentu aku sangaaat yakin! Sekarang aku sudah tak bisa mengganggu Mirza lagi malam-malam karena Mirza juga tinggal dengan Sei," Riota merutuk di akhir, menatap Ryusei sebal karena itu. "Asal kalian tahu saja ya, aku juga tak ikhlas Mirza pacaran sama es batu berjalan yang tidak peka!" Riota memeletkan lidahnya pada Ryusei lalu bersembunyi di belakang tubuh Mirza, masih memandang Ryusei tajam—yang jatuhnya menggemaskan.

"Dan aku juga tidak rela Riota pacaran sama nafsu berjalan!"

Ryusei dan Miwaki harus menahan diri untuk tidak menyerang kekasih mereka mendengar sebutan-sebutan aneh itu, yang bahkan tidak satu pun dari Ryusei dan Miwaki membantahnya.

"Tapi akui saja, kalian tetap menyukai kami, 'kan?" ujar Ryusei setelah itu, bersamaan dengan Miwaki melempar senyuman tipis kepada Riota dan Mirza.

Yang di mana wajah mereka langsung merona hebat.

"Sudah pasti," Miwaki terkekeh pelan melihat reaksi Riota yang kini menutupi wajahnya memakai kedua tangannya.

"Bebek jelek—tidak dengar!" Mirza menundukkan wajah sambil menutup kedua telinganya, sedikit mengerucutkan bibir lucu.

Ryusei tertawa kecil, mendekati Mirza. "Akui saja," dia berkata dengan gemas.

"Kau mengakuinya, 'kan Riota?"

Miwaki bertanya sambil tersenyum tipis dan menarik Riota mendekat, perlahan memegang pergelangan tangan Riota lalu menariknya supaya Riota tak lagi menutup wajahnya. Seiring dengan Ryusei yang menangkup pipi Mirza dan mengangkat wajah Mirza supaya kembali menatapnya itu.

Netra biru yang sama-sama menampakkan malu dengan rona merah menjalar di wajah manis keduanya.

Sontak Riota dan Mirza bertanya bersamaan;

"Kenapa hidungmu berdarah?"

Memang, itu sangatlah bodoh. Bahkan Riota dan Mirza mengakuinya terang-terangan.

Setidaknya mereka juga berakhir sama-sama bahagia, walau terkadang pertengkaran masih terjadi. Riota takkan mengelak jika suasana seperti itu adalah suasana yang sangat menyenangkan, Mirza juga begitu. Masih banyak sebenarnya, kenangan-kenangan yang telah mereka lalui bersama. Dari orang asing menjadi keluarga. Riota akan berdebat dengan siapa saja yang kembali berkata bahwa persahabatan antara laki-laki dan perempuan selalu melibatkan perasaan.

Buktinya ada kok yang tidak melibatkan perasaan, yaitu dia dan Mirza.

Oke—baiklah sebenarnya ada campur tangan perasaan sayang, tapi itu adalah sebuah rasa kekeluargaan di antara mereka berdua, yang takkan bisa dipisahkan lagi.

"Mirza!"

Gadis itu terperanjat kaget saat seseorang memeluknya erat dari belakang, "Riota kau membuatku jantungan," Mirza memprotes kecil, sementara Riota tertawa tanpa dosa dan duduk di samping Mirza.

"Nih," Riota meletakkan sekaleng kopi di tengah-tengah mereka, sementara dia membuka kaleng susunya.

"Ih? Tumben baik dibelikan?" tanya Mirza dengan geli seraya mengambil kaleng kopi itu.

"Kenapa emang? Gak boleh?" Riota menggembungkan pipinya sebal melihat Mirza terkekeh, "ini biar nunjukin kalau aku tidak kere!"

"Khusus untuk hari ini doang sih, iya, hm."

"Mirzaaa!" Riota merajuk sambul memukul pelan bahu Mirza, sedangkan Mirza mengacak surainya dengan gemas. Meneguk sebentar susunya, Riota menatap ke arah sahabatnya. "Mirza, kenapa sih bisa peduli padaku?"

Hampir saja Mirza tersedak kopinya mendengar pertanyaan Riota, lantas menoleh ke Riota tak percaya. "Sungguh kau bertanya itu?" Riota cuma mengangguk, Mirza berpikir-pikir sejenak. "Karena kau bottom?"

"Alasan macam apa itu!?"

Mirza nyengir sambil menepuk-nepuk kepala Riota selayaknya Riota anak kecil, "Itu salah satu alasan kok, masih ada yang lain." Riota memutar matanya bosan mendengarnya, "beneran!"

Riota mendengus kecil, "Lalu apa itu?" dia bertanya pura-pura ngambek.

Tapi tidak ada jawaban dari Mirza selama beberapa saat, membuat Riota kembali terheran. Alisnya saling bertautan karena jawaban tidak kunjung datang, "Mirza—"

"Karena kau spesial," Mirza memotong perkataannya sambil melempar senyuman lembut pada Riota, ekspresinya menampakkan dia bukan main bahagia. "Karena kau spesial bagiku, Riota," ulangnya lebih pelan, seakan malu mengakui itu sedangkan Riota tak bisa menahan senyumnya terkembang.

"Spesial darimananya, eh?"

Mirza menatap lurus Riota tepat di matanya, "Dari semuanya spesial. Aku sangat menyayangimu."

Selama beberapa saat Riota tersenyum, sebelum rautnya berubah menjadi muram. "Sebenarnya aku, err, berpikir akhir-akhir—"

"Oh kau bisa mikir?"

"Ish, diam!" Riota memukul pelan lengan Mirza sementara Mirza cuma nyengir, Riota berdehem untuk melanjutkan ucapannya. "Aku pikir, aku tak pantas menerimamu," ujar Riota mengelus tengkuknya sambil menolak pandang, "Mirza sangat baik—baik sekali, jadi sahabatku pula. Kupikir aku beruntung sih.. Tapi entah kenapa aku merasa aku tak bisa membalas semua perbuatan Mirza padaku, jadi merasa tak pantas menerima itu semua dari Mirza.."

Hening.

Tidak ada yang berbicara selama sekian menit.

Riota kira Mirza akan menertawakannya seperti biasa setelah mendengar semua ungkapannya tadi, yang terkesan konyol. Tapi nyatanya, Mirza menggenggam tangannya erat dan memaksanya untuk saling menatap. Riota bisa menemukan ekspresi geli di raut Mirza, dilengkapi dengan senyuman tipis Mirza.

"Riota pantas kok, dapat itu semua. Karena aku sudah menyebutkannya tadi, Riota itu spesial bagiku," balas Mirza dengan nada lembut yang selalu berhasil membuat Riota tak henti merasa tenang, "jangan berpikiran seperti itu lagi. Tanpa sadar kau sudah membalas banyak perbuatanku padamu, cukup berada di sampingku saja dan kau bisa membalaskan semuanya, Riota. Kau sangat pantas mendapatkan itu semua, dan kupikir aku lah yang sangat beruntung bisa memilikimu sebagai teman, sahabat, dan keluarga," Mirza menepuk pipi Riota sekali sambil terkekeh kecil.

Riota mengangguk sebagai jawaban, entah mengapa dia juga merasa malu mendengar penuturan Mirza yang selalu saja membuatnya terperangah sesaat. Lantas dia menggenggam balik tangan Mirza sambil berkata, "K-kalau begitu aku akan melakukannya! Aku akan tetap di samping Mirza sebagai Kakak! Aku akan berusaha jadi Kakak yang baik!" Riota menggebu-gebu saat mengucapkannya, sebelum dia malah tersadar sendiri dan rona tipis menyelimuti wajahnya, "boleh, 'kan kalau seperti itu?"

"Aku heran kenapa kau manis sekali," Mirza, bukannya menjawab pertanyaan Riota, malah menarik kedua pipi Riota karena sangat gemas.

"Hwenti—" Riota cemberut lagi sambil mencoba melepaskan cubitan Mirza di pipinya.

"Tentu saja sangat boleh, bodoh," Mirza menepuk kepala Riota saat menjawabnya dan mengulas senyum kecil di wajahnya, "lagipula, bukannya kita sudah membuat janji kelingking?"

Wajah Riota berubah cerah mengingat itu, lantas mengangguk lagi beberapa kali. "Benar, benar!"

Bersamaan mereka saling melempar senyuman, kembali menautkan jari kelingking mereka dan menyatukan dahi.

"Aku sungguh menyayangimu," Mirza berkata seraya nyengir.

Riota tersenyum lebar, "Aku lebih menyayangi Mirza! Boo~ Mirza tidak akan bisa menyaingi rasa sayangku!"

"Tentu aku bisa!" Mirza menjulurkan lidahnya pada Riota dan terkekeh, "aku lebih sayang Riota!"

"Aku yang lebih sayang Mirza!"

"Aku dong, yang lebih sayang Riota."

"Ih enak aja, aku lah."

Mereka berdua akhirnya bersama-sama menertawakan perdebatan kecil ini, lantas kembali bertatapan. Mata teduh Mirza menabrak mata bersemangat Riota, sementara bibir mereka melukiskan senyuman manis. Berkata di satu waktu yang sama;

"Aku sangat menyayangimu."

-End-